Sunday, August 25, 2024

24 Tahun Memandu

Bulan Agustus 2024 ini menandai sudah 24 tahun saya bergabung di dunia kepanduan. Tantangan-tantangan apa saja yang muncul? Dan apakah kepanduan khususnya pramuka masih relevan di tengah modernisasi global saat ini?

Tidak bisa dipungkiri, dunia kepanduan khususnya kepramukaan di Indonesia itu kental dengan militer. Karena memang asal muasalnya pun dari Lord Baden Powell yang seorang militer. Dari mulai sistem kecakapan hingga seragam dibuat mirip militer.

Tapi isinya tentu saja berbeda, dalam kepanduan yang diutamakan adalah kegiatan-kegiatan yang seru, menantang, dan menyenangkan. Disesuaikan dengan kebutuhan remaja sesuai dengan usianya.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Di awal saat masa remaja saya adalah peserta didik atau anggota dari Gerakan Pramuka yang ikut bergabung ke dalam pasukan penggalang kemudian ambalan penegak. Dan baru sejak tahun 2000an, saya beranjak masuk ke anggota dewasa atau pembina.

Kursus Mahir Dasar dan Kursus Mahir Lanjut adalah kursus pendidikan yang diadakan oleh Kwartir khusus bagi pembina untuk mempersiapkan secara pengetahuan dan keterampilan memahami esensi dari kepanduan dan Gerakan Pramuka serta bagaimana mendampingi adik-adik usia anak-anak dan remaja.

Pendekatan Baden Powell sederhana saja, kegiatan-kegiatan di alam terbuka akan membantu meningkatkan life skill dan menjadikan anak sehat secara fisik dan mental.

Tentu tantangan yang dihadapi di zaman tahun 1900an (awal mula kepanduan) dan kini di era 2024 jauh berbeda. 


Nyata terlihat saat ini anak-anak lebih memilih berkegiatan di rumah, asalkan ada koneksi internet dan gawai kebutuhan bermain mereka sudah tercukupi. 

Masalahnya adalah kemampuan bersosialisasi anak-anak jadi berubah. Ntah ini hanya perasaan saya saja. Nanti perlu dicari penelitian terkait.

Karena saya sering melihat anak-anak jadi lebih kasar ketika bersosialisasi di internet. Tapi saat bertatap muka, mereka jadi pendiam.

Lalu pertanyaan pentingnya, apakah pendidikan kepanduan atau pramuka saat ini masih relevan? Apakah bisa menjawab tantangan zaman?

Menurut saya masih relevan, tetapi perlu perubahan dari kita anggota dewasa (pembina).

  1. Perlu wadah organisasi yang kuat dan mapan. Sebagai sebuah organisasi sukarela, seringkali yang terjadi adalah ketergantungan pada tokoh. Sehingga saat tokoh itu tidak lagi aktif, organisasi langsung melempem.
  2. Program-program kegiatan yang berpusat pada peserta didik. Saat ini khususnya di Indonesia pramuka itu wajib di sekolah-sekolah, sehingga sering terjadi kegiatan pramuka malah dilakukan di dalam ruangan kelas, jadi tidak ada bedanya dengan kegiatan belajar sehari-hari. Seharusnya, kembalikan kepada fitrahnya, anak-anak yang sehat butuh aktivitas fisik di luar ruangan. Buatlah program-program di luar kelas yang menantang untuk peserta didik.
  3. Batasi waktu layar (screen time). Mungkin yang ini sedikit kontroversial, tapi selama berkegiatan, saya pasti meminta adik-adik untuk menyimpan semua gawainya, agar bisa fokus dan hadir sepenuhnya mengikuti kegiatan. Anak-anak itu pasti mencontoh orang dewasa, baik itu orang tuanya atau gurunya, sehingga banyak anak yang belum siap secara fisik dan nalar jadi nempel terus dengan gadgetnya. Kembalikan anak-anak menjadi anak-anak lagi, sentuh rumput, memanjat pohon, bermain di sungai, bergulat, dan berlari-larian. Karena nanti saat dewasa, mereka akan terus berkutat dengan gawai. Berikan kesempatan mereka berkegiatan di alam terbuka, niscaya anak-anak akan jadi orang dewasa yang kuat fisik dan mentalnya.

24 tahun yang sangat menarik, banyak naik dan turunnya. Saya bahkan pernah mengalami hanya satu orang saja peserta didik yang berminat ikut menjadi anggota pramuka. Tapi bagi saya selama ada seorang anak yang ingin berkegiatan pramuka, maka saya wajib memfasilitasinya.

Sekali memandu! Tetap memandu!

Berfoto setelah hiking di Kampung Adat Cireundeu


Monday, December 25, 2023

Online Library

Kapan terakhir kali kamu mengunjungi perpustakaan?

Saya pribadi terakhir ke perpustakaan umum seingat saya itu sebelum pandemi Covid-19, berarti di tahun 2019. Berarti sudah 4 tahun lamanya tidak mengunjungi perpustakaan umum. Sebetulnya kalau di Kota Bandung, perpustakaan umum (perpustakaan daerah) itu biasa saja, tidak wah, tidak seperti di luar negeri :). Jadi saya lebih memilih mengunjungi perpustakaan universitas. Seperti ke Perpustakaan ITB.

Tapi selalu senang bisa mengunjungi perpustakaan, sebagai yang harus menabung lama kalau ingin bisa baca sesuatu, perpustakaan itu surga dunia :). Walaupun penyakitnya, baca bukunya sering kali tidak pernah sampai tamat. Sungguh nikmat rasanya membalik halaman, mencium warna kertas, dan membaca hasil karya buah pikiran orang lain.

Lalu kenapa gak pernah lagi ke perpustakaan umum? Karena saat pandemi datang, saya menemukan perpustakaan-perpustakaan online, yang ternayta isinya sangat luar biasa. Entah berapa banyak buku yang sudah saya download. Meskipun penyakitnya tetap sama, sering kali tidak pernah sampai tamat membacanya :). Hayoh we download... wkwkwkwkwk.

Berikut beberapa website/aplikasi yang jadi teman setia saya melewati pandemi.


Yang pertama, ada Archive.org sempat kena kasus hampir di shutdown, tapi berhasil menang. Isinya sangat lengkap dari mulai arsip website, video, audio, dan tentunya berbagai buku dan artikel. Khusus untuk buku terdapat banyak pilihan yang bisa diakses, seperti Open Library, Project Gutenberg, dll.

Semua buku klasik bisa ditemukan di sini. Sungguh hal yang mustahil saya temui di zaman pra-internet dulu.

Kemudian, aplikasi-aplikasi bookstore juga sangat membantu. Ada dua yang selalu saya pakai, yang pertama ada Google Books dan yang kedua ada Kindle dari Amazon. Untuk mobile app-nya bisa download di Google Play Store dan App Store.


Nah, untuk website/aplikasi lokal, ada dari Perpustakaan Nasional


Meskipun websitenya membingungkan, tapi lumayan bisa cari referensi dan buku-buku yang sudah di digitalisasi. Aplikasinya semakin baik, ada iPusnas dan yang terbaru ada dari Kemdikbud.



Tapi, kalau ingin buku-buku referensi terbaru, ada satu lagi sumber sebetulnya. Meskipun tidak disarankan, karena cukup banyak yang hasil bajakan. Website yang dibuat karena banyak jurnal-jurnal ilmiah yang mestinya bisa diakses mudah, malah dihalangi oleh paywall dan mahal untuk bisa diakses khalayak umum. Misinya: freedom of knowledge. Ya, ini adalah Z-Library


Untuk mendukung Z-Library tetap ada, bisa dengan menandatangani petisi di Change.org.

Dengan semua serba digital, kadang saya jadi bertanya-tanya, bagaimana ya nanti di masa depan? Karena sebetulnya bentuk fisik seperti kertas itu tetap lebih tahan lama kalau menurut saya. Kita bisa membaca kitab-kitab kuno, lalu surat-surat antar ilmuwan, dan arsip-arsip berbagai berita. Apakah yang akan terjadi jika misalkan saya meninggal dunia, atau terjadi bencana besar, lalu semua blog ini, semua chat dan email, apakah akan tetap bisa dibaca oleh orang-orang di masa depan? Tampaknya akan sulit, kecuali sudah sengaja diset untuk bisa diakses oleh publik. Tidak akan ada lagi ceritanya, kita menemukan surat-menyurat seperti dalam kisah R.A. Kartini kepada Stella Zeehandelaar, atau surat-surat yang dibuat oleh Albert Einstein. 

Zaman memang semakin canggih dan modern. Tapi untuk saya pribadi, mencatat dan menulis di kertas, tetap yang terbaik.


Sunday, July 23, 2023

Sembilan dan Dua Belas

Dua angka spesial di tahun 2023 ini. Sembilan tahun saya belajar bersama Semi Palar dan dua belas tahun berumah tangga. 

Hidup bagi saya tampak selalu berkutat di masalah yang itu-itu saja. Tapi selalu bersyukur masih diberikan kesehatan dan keluarga yang rukun, serta lingkungan dan teman-teman baik yang selalu membantu saat kesulitan. Saya ingat betul sebelum menikah, Bapak meminta nama lengkap dan tanggal lahir saya dan Teh Santi. Bapak orang yang percaya bahwa semua tanggal itu baik, tapi ada tanggal yang terbaik untuk melakukan segala sesuatu. Seperti untuk pernikahan, pindah rumah, membuat perjanjian, dll.

Dan setelah dihitung ternyata hari baik untuk saya melakukan pernikahan jatuh di 22 Syaban 1432 H atau 23 Juli 2011. Bapak juga berpesan, setelah menikah nanti hidupnya bakal besar pasak daripada tiang. Percaya tidak percaya, hal itulah yang selalu jadi persoalan untuk keluarga kecil saya sampai saat ini. 

Setiap tengah tahun saya coba berefleksi, melihat satu tahun ke belakang, untuk bisa mempersiapkan diri menghadapi satu tahun ke depan. 

Saat saya melihat lagi tulisan-tulisan refleksi lama saya, terlihat ternyata saya belum banyak mengalami perkembangan. Banyak harapan-harapan yang pupus, juga banyak yang belum tercapai. Dan makin terasa, semakin bertambah usia, kemampuan untuk bisa melakukan banyak hal semakin berkurang. Jadi mudah lelah :)

Kejadian-kejadian tahun ini membuktikan saya memang tidak bisa berbuat banyak. Mungkin bisa jadi malah menyulitkan orang-orang di lingkungan saya. Tapi apa pun persoalannya, saya yakin selalu ada jalan keluarnya. Meskipun jalan tersebut tidak selalu terlihat jelas. 

Jika mengingat umur Rasulullah saw, maka sisa usia saya sekitar 22 tahun lagi. Dibandingkan orang-orang, saya saat ini belumlah bisa memberikan apa-apa. Bahkan untuk keluarga sendiri. 

Tapi tentunya tak perlulah membandingkan dengan orang lain. Hal tersebut hanya menandakan, saya masih kurang skill-nya, kurang usahanya, kurang doanya, kurang sedekahnya. 

Tahun ini, permohonan maaf perlu saya sampaikan kepada orang-orang terdekat saya. Mohon maaf sebesar-besarnya, karena selalu "ngaririweuh" dan belum bisa memberikan apa-apa.

Mari tetap optimis. Memberikan usaha dan doa terbaik. 

Sebagai penutup, berikut sembilan hal yang saya harap bisa segera saya atasi dan kuasai:

  • Melunasi hutang-hutang
  • Mempunyai tabungan untuk hari tua
  • Membuat perencanaan yang detail dan terstruktur
  • Disiplin dengan target-target yang sudah dibuat
  • Mengelola waktu dan prioritas
  • Hidup sehat
  • Memiliki waktu berkualitas bersama keluarga
  • Membuat karya (buku, video, podcast, artikel, dll)
  • Regenerasi Pramuka

Terima kasih untuk teman-teman dan keluarga, yang selalu bersabar, dan percaya kepada saya. Semoga seperti hasduk pramuka yang setiap hari Sabtu saya pakai, yang berbentuk kain segitiga mitela, perlambang seorang pandu yang terampil dan selalu siap menolong. Semoga saya senantiasa bisa berbuat baik dan membantu orang-orang di sekitar saya.

Sunday, July 9, 2023

Mempersiapkan Diri



"Be Prepared" - "Sedia"

Motto Baden Powell yang selalu saya ingatkan kepada adik-adik saya di gugus depan.

Bulan Juli ini setelah sekian lama pandemi, akhirnya kami bisa mengadakan kembali perkemahan gugus depan. Meskipun hanya diikuti oleh 8 orang putri dan 11 orang putra, namun rasanya sangat meriah. Curug Tilu Leuwi Opat yang terletak di kawasan CIC Parongpong, Kab. Bandung Barat jadi lokasi perkemahan kali ini. Adik-adik sejak jauh hari sudah bertanya kapan kita bisa mengadakan kegiatan berkemah. Karena mereka mengaku hanya pernah berkemah satu malam saja dan menurut adik-adik kurang terasa perkemahannya. Kecuali bagi adik-adik yang pernah ikut kegiatan Jambore.

Diputuskanlah perkemahan kali ini akan dilaksanakan selama tiga hari dua malam. Tepatnya tanggal 3-5 Juli 2023. Berangkat hari Senin pagi, dan pulang hari Rabu siang. Tentunya persiapan harus matang. Dari mulai persiapan fisik, survey lokasi, latihan packing, mendirikan tenda, dan juga memasak. List peralatan pribadi dan regu kami susun bersama, serta tentunya izin dari orang tua dan pihak sekolah.

Sangat menarik melihat adik-adik mempersiapkan segala sesuatunya. Mengelola keuangan seperti transport, sewa alat-alat kemah, serta belanja bahan-bahan makanan mereka lakukan secara mandiri. Benarlah ucapan Baden Powell, “A week of camp life is worth six months of theoretical teaching in the meeting room.” Terlihat bagaimana adik-adik bekerja sama, mempersiapkan perkemahan, kemudian mencari solusi ketika menemui persoalan. Bagi saya pribadi, kegiatan perkemahan adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari. Kita akan mengalami kelelahan karena harus membawa beban ransel yang berat dan juga menemui banyak rintangan saat berkegiatan di alam. Namun dengan bergotong royong dan bekerja sama, semua hal tersebut bisa diatasi dengan riang gembira. Saya ingat bagaimana adik-adik tetap saling menyemangati dan saling membantu ketika harus hiking melewati track yang sulit dan cukup jauh menuju Curug Putri. Atau ketika adik-adik saling menjaga ketika ada sekawanan monyet yang menyerbu kavling perkemahan adik-adik. 

Sepulangnya dari perkemahan tentu adik-adik tidak boleh berhenti. Tetaplah belajar, tetaplah meningkatkan keterampilan dan kecakapan adik-adik. Di masa depan kelak, adik-adik akan mengalami kembali rintangan-rintangan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Saya selalu belajar hal baru ketika mengikuti perkemahan. Saya belajar, tidak boleh merasa karena sudah pembina maka tidak perlu lagi meningkatkan kecakapan. Justru perkemahan adalah waktu yang pas untuk mengasah kecakapan. Saya pun belajar untuk lebih sabar saat mendampingi adik-adik. Karena seperti menanam pohon, hasilnya tidak akan mungkin kita lihat saat itu juga. Dan belajar untuk selalu mempersiapkan diri, selalu sedia, menjadi tempat bertanya dan berdiskusi bagi adik-adik. 

Saya pernah ditanya, "Mengapa suka kegiatan pramuka? Karena kan pramuka itu melelahkan." Jawabannya adalah karena berkegiatan di alam terbuka bersama adik-adik yang selalu membuat kangen. Dan juga sebagai pembina, pengalaman bisa melantik salah satu adik-adik adalah pengalaman yang selalu dinanti. Seperti saat hari terakhir perkemahan kemarin, akhirnya salah satu anggota pasukan putra berhasil menyelesaikan SKU dan siap dilantik menjadi penggalang ramu. Sambil memegang ujung bendera merah putih di dada, mengucapkan Trisatya, "Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan pancasila, menolong sesama hidup, dan mempersiapkan diri membangun masyarakat, menepati dasa darma." Hormat saya untuk adik-adik yang terus semangat meningkatkan kecakapannya. Semoga bekal pendidikan kepramukaan bisa menjadi salah satu skill yang bermanfaat untuk adik-adik kelak di masa depan. Ingatlah seorang pramuka itu tidak pernah berputus asa dan selalu gembira.

Saturday, April 22, 2023

Gerhana Matahari, Hari Bumi, Idul Fitri

Memperhatikan bulan saat berpuasa terasa berbeda. Mungkin karena saat berpuasa saya menunggu-nunggu kapan datangnya awal bulan, bulan purnama, dan akhir bulan.  

Dilansir dari laman bmkg.co.id, "Dari sejumlah fase Bulan, terdapat empat fase utama, yaitu fase bulan baru, fase setengah purnama awal (perempat pertama), fase purnama, dan fase setengah purnama akhir (perempat akhir). Periode revolusi Bulan pada bidang orbitnya dihitung dari posisi fase bulan baru ke fase setengah purnama awal ke fase purnama ke fase setengah purnama akhir dan kembali ke fase bulan baru disebut sebagai periode sinodis, yang secara rata-rata ditempuh dalam waktu 29,53059 hari (29 hari 12 jam 44 menit 3 detik)."

Berbeda dengan periode matahari, periode bulan berlangsung lebih cepat. Jika kalender matahari (masehi) penanggalannya berjumlah 365-366 hari, maka pada kalender bulan (hijriah) penanggalannya berjumlah 354-355 hari. Berbeda sekitar 10 hari. Kalender bulan juga memiliki kabisat. Tahun biasa mempunyai jumlah hari sebanyak 354, sedangkan tahun kabisat berjumlah 355 hari. Satu hari tersebut ditambahkan pada bulan Zulhijah. Pada kalender Hijriah, ditentukan 11 tahun kabisat dalam periode 30 tahun. Tahun kabisat tersebut, yaitu tahun ke-2, ke-5, ke-7, ke-10, ke-13, ke-16, ke-18, ke-21, ke-24, ke-26 dan ke-29 (kompas.com). 

Contohnya tahun 1443 dibagi 30 adalah 48 dan sisa 3. Maka tahun 1443 H adalah tahun kabisat dan tahun 1444 H adalah tahun biasa.

Bulan Ramadan tahun ini juga terasa berbeda. Selain karena PPKM sudah tidak berlaku, saya dan keluarga berpuasa di kontrakan dekat sekolah. Kegiatan-kegiatan seperti berbuka puasa bersama dan Pasar Ramadan Smipa juga kembali dilaksanakan.

Namun, yang paling menarik adalah kejadian-kejadian di akhir bulan Ramadan tahun ini. Tanggal 20 April terjadi gerhana matahari, lalu tanggal 21 April menandai hari terakhir bulan Ramadan, dan tanggal 22 April adalah Hari Raya Idul Fitri yang juga ternyata berbarengan dengan Hari Bumi.

Menghitung tanggal-tanggal adalah salah satu bagian dari budaya di keluarga. Saya ingat betul bagaimana Bapak dan Uwa menghitung hari baik untuk saya menikah, pindahan rumah, dan sebagainya. Saya sendiri kurang mengerti bagaimana cara menentukan hari baik tersebut, tapi Bapak sangat yakin dengan hal tersebut. Beliau selalu bilang, semua hari itu baik, tapi ada hari yang terbaik. Walaupun sayang ilmu hitung-menghitung tersebut tidak menurun ke anak-cucu, karena buku kitabnya sudah hilang bersamaan dengan wafatnya Uwa.

Gerhana matahari adalah tanda-tanda alam, berkat pola orbit matahari dan bulan yang teratur kita dapat dengan akurat memperhitungkan kapan terjadi gerhana, atau kapan lebaran akan terjadi tahun depan. Berkat memahami pola tersebut, kita juga dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk bercocok tanam, hingga kapan panen tiba. Kapan harus pergi melaut agar dapat ikan yang melimpah, dan kapan harus berlabuh. Jadi wajar jika orang-orang zaman dulu sampai membuat kalender untuk menentukan hari baik, karena semuanya berpola. 

Pola ini juga berlaku supaya kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Bapak berpesan, menjalani hidup itu harus dengan ilmunya. Kita mungkin hidup susah atau miskin, tapi dengan ilmu, kita akan bisa memperoleh kebahagiaan.

Kuncinya adalah dengan terus berbuat baik. Resep untuk bahagia di dunia dan akhirat adalah berbuat baik kepada orang tua, kepada keluarga, kepada orang lain, dan kepada bumi. 

Pesan yang sama yang selalu dikumandangkan oleh para alim ulama. Memasuki bulan baru, yaitu bulan Syawal, semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemudahan untuk senantiasa berbuat kebaikan.


Sumber: 

BMKG

Kompas

Thursday, January 21, 2021

Mengapa Beberapa Materi Pelajaran Itu Sulit?

Pengalaman saya, karena kita kurang bisa menemukan kaitannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Sehingga saat diberi materi tersebut di kelas seringkali hanya lewat saja. Kalaupun ingat hanya sebentar, besoknya langsung lupa.

Maka bersyukurlah kalian yang mendapat guru-guru galak/tegas yang memberikan banyak kesan saat pembelajaran di kelas. 🙂

Yang paling sulit adalah saat kita bertemu guru yang cuma bahas latihan soal dari buku, atau datang ngasih tugas terus pergi ninggalin kelas. Jadi kita sebagai murid kudu bisa belajar mandiri.

Jangan salah, kemampuan belajar mandiri ini penting, karena saya saja yang sudah lulus kuliah, dan bekerja, geningan tetep we kudu belajar. Selalu ada persoalan baru, yang mengharuskan kita terus belajar sepanjang hayat.

Nah, kita ambil contoh: materi pelajaran pecahan.

Saya ingat pernah berdiskusi dengan teman, “mengapa anak-anak sulit memahami pecahan/desimal?”

Jawabnya, karena di Indonesia kita tidak mengenal mata uang pecahan. Bandingkan dengan negara lain, contohnya negara Amerika, mereka mengenal sen. Dimana 100 sen = 1 dollar. Jadi anak-anak sudah biasa, merasakan sehari-hari kalau 1/2 dollar itu = 100/2 = 50 sen.

Atau 25 sen = 25 : 100 = 1/4 dollar.

Memang secara budaya berbeda. Jadi wajar kalau anak-anak kesulitan. Belum ditambah gurunya yang kadang ‘teu bisaeun’ menjelaskan.

Akhirnya, triknya adalah kamu harus berdiskusi, bisa dengan guru atau teman atau orangtua. Bagaimana supaya dapat menemukan hubungannya, materi-materi pelajaran, dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kalau masalah pecahan, saya kira itung-itungan belanja buah/sayur ke pasar, yang paling dekat dengan kita.

Jika 1 ekor ayam, bisa dijadikan 9 potong. Kita bisa bilang, satu potongnya itu 1/9 ayam.

Nah, kita bikin lebih menarik, 9 potong itu adalah: bagian kepala, dada, punggung, 2 sayap, 2 paha, 2 ceker. Jika berat 1 potong dada = 2 potong bagian yang lain, terus total berat ayam adalah 3 kg. Berapa berat 2 sayap + 1 paha?

Dengan cara seperti itu, materinya jadi lebih ‘nyambung’ sekaligus menantang.


Contoh yang lain nih: materi IPS tentang Sumpah Pemuda. Jika hanya mendengarkan/membaca kisahnya dari buku pelajaran, kita hanya akan dapat sedikit. Tapi kalau berhasil mencari dongeng/cerita khas, kita akan bisa ingat lebih lama. Risetlah sungguh-sungguh, supaya dapat kisah-kisah unik dibalik suatu peristiwa.

Tahukah kamu, bahwa dalam ikrar sumpah pemuda, selain sumpah satu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, terdapat kalimat tentang kepanduan (kini gerakan pramuka). Lengkapnya adalah: putusan Kongres Pemuda II yang konsepnya ditulis oleh Mohammad Yamin dan disetujui oleh pimpinan rapat, Soegondo, menulis sedikitnya ada lima dasar yang dapat memperkuat persatuan Indonesia, yaitu kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, serta pendidikan dan kepanduan.

Jangan lupa juga, dengan mempelajari sejarah, kita sebenarnya tengah mempersiapkan masa depan. Seperti kata Bung Karno, JASMERAH, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Memang banyak sih, pelajaran-pelajaran yang cuma dipakai untuk ujian saja. Untuk materi pelajaran tersebut, percayalah, suatu hari nanti pasti ada gunanya. Hehehehehe.



Bagaimana Pendidikan Holistik?

Dengan latar belakang pernah mengikuti Kursus Pembina Pramuka Mahir tingkat Lanjut, saya mengetahui bahwa yang namanya pendidikan itu tidak bisa dikotak-kotakkan. Kalau ingin membentuk regu yang ideal, maka semua aspek harus diperhatikan, dari mulai kecakapan (SKU/SKK) setiap anggota, manajemen regu, kemampuan pembina, hingga support dari orangtua. Gerakan Pramuka dengan prinsip dasar dan metode-metodenya diharapkan bisa secara utuh melahirkan Warga Negara Indonesia yang baik.

Mengutip dari Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, pasal 8 dan 9:

Prinsip Dasar Kepramukaan meliputi:

  • iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
  • peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya;
  • peduli terhadap diri pribadinya; dan
  • taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.

Metode Kepramukaan

(1) Metode Kepramukaan adalah metode belajar interaktif dan progresif yang dilaksanakan melalui:

  • pengamalan Kode Kehormatan Pramuka;
  • belajar sambil melakukan;
  • kegiatan berkelompok, bekerjasama, dan berkompetisi;
  • kegiatan yang menarik dan menantang;
  • kegiatan di alam terbuka;
  • kehadiran orang dewasa yang memberikan bimbingan, dorongan, dan dukungan;
  • penghargaan berupa tanda kecakapan; dan
  • satuan terpisah antara putra dan putri;

(2) Dalam menjalankan Metode Kepramukaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan Sistem Among dan Kiasan Dasar.

Dari kutipan tersebut, untuk menjalankan proses pembinaan, kata kuncinya ada dalam kalimat terakhir, yaitu Sistem Among. Ya, betul sekali, walaupun Gerakan Pramuka mengambil bentuk dan menginduk kepada organisasi kepanduan dunia, dalam hal ini WOSM (World Organization of the Scout Movement), namun para pembina ternyata wajib menerapkan kearifan lokal hasil pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ing ngarso sung tulodo; ing madyo mangun karso; tut wuri handayani.

Sebuah konsep pendidikan holistik asli Indonesia. Pendidikan yang mengutamakan hubungan manusia, diatas materi-materi pelajaran. Dan memang betul begitulah adanya, saat kita bisa membangun koneksi yang baik, antara semua pemegang kepentingan, maka kurikulum apa pun bisa dengan optimal diproses oleh peserta didik. Menjadi sia-sia, metode-metode/teknologi canggih, kalau diberikan tanpa koneksi/memanusiakan para pendidik dan peserta didiknya.

Ki Hadjar Dewantara (Gambar: wikimedia.org)

Sudahkah kita menyapa setiap anak yang kita bina/didik?

Sudahkah kita mengusahakan mengenal lebih jauh latar belakang anak-anak kita?

Berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk membangun koneksi dibandingkan memberi ceramah tentang materi pelajaran?

Seberapa sering para pendidik kita bekolaborasi?

Di masa depan, pendidikan tidak akan eksklusif jadi milik sekolah. Semua hal akan bisa dipelajari secara online berkat kecanggihan teknologi. Seperti mie instan, mudah dan cepat. Namun dampaknya, kita akan punya anak-anak yang tidak paham proses, tidak tahu cara membangun relasi, tidak bisa bekerja sama, tidak tahu cara mengelola emosi, tidak paham empati dan simpati.

Sayangnya saat ini, semua sibuk standarisasi, sertifikasi, akreditasi, dan asi-asi lainnya. Tapi lupa, sistem pendidikan yang paling bagus pun akan jadi tidak berarti tanpa manusianya. Pendidikannya tinggi, tapi tidak punya hati.

Pendidikan adalah pekerjaan rumah kita bersama. Sudah saatnya para pendidik kembali ke ruhnya. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.



Sistem Among

Dalam praktiknya, sistem among perlu diterapkan secara berimbang. Dalam Gerakan Pramuka, sistem among itu dibagi ke dalam tiga golongan usia, yaitu siaga (7-10 tahun), penggalang (11-15 tahun), dan penegak (16-20 tahun). Saya tidak memasukkan golongan pandega, karena menurut saya usia 21 tahun ke atas sudah tidak layak disebut sebagai peserta didik. Sederhananya sistem among dalam Gerakan Pramuka dilukiskan seperti diagram berikut:




Ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan), menjadi pondasi bagi setiap golongan. Tanpa keteladanan, pendidikan akan menjadi sia-sia. Namun, di lapangan inilah hal yang paling sulit dijalankan. Bagaimana tidak, semisal ingin mendidik anak menjadi rajin, hadir tepat waktu, tapi kita sebagai pendidik sering absen, datang terlambat, maka pasti ajakan kita supaya anak rajin akan dipandang sebelah mata oleh mereka. Atau jika ingin anak-anak tidak merokok, ya jangan harap berhasil kalau kita sebagai pendidiknya/orangtua memberi teladan suka merokok.

Kemudian dua konsep yang lainnya, dijalankan secara bertahap pada setiap golongan. Untuk golongan siaga, ing madyo mangun karso (di tengah membangun semangat), menjadi bagian yang lebih utama dibandingkan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Karena pada usia siaga, karsa/semanagat/kemauan adalah kata kunci bagi mereka. Kegiatan-kegiatan penuh cerita, nyanyian, gerak, dan permainan, adalah warna kegiatan siaga.

Untuk golongan penggalang, membangun semangat dan memberi dorongan, dijalankan dengan porsi yang kurang lebih sama. Pada usia penggalang, anak-anak tengah merasakan masa puber serta membangun kemampuan nalar mereka. Kegiatan-kegiatan beregu, seperti berkemah yang mengasah kemampuan bersosialisasi dan sekaligus mengasah kemandirian, jadi kunci agar anak-anak dapat melewati fase ini dengan baik.

Untuk golongan penegak, memberi dorongan dari belakang, lebih diutamakan. Anak-anak diharapkan telah memiliki kemampuan memotivasi serta semangat yang cukup dari dalam diri. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan langsung dengan masyarakat, seperti kemah bakti atau kegiatan SAR, akan menantang anak-anak untuk memberikan yang terbaik.

Perlu dicatat, Gerakan Pramuka ini murni berbasis usia, jika misalkan seorang anak baru bergabung di usia 12 tahun, walau ia belum pernah ikut kegiatan siaga, maka ia tetap masuk golongan penggalang. Pun demikian jika ternyata ia kesulitan untuk menuntaskan SKU – Syarat Kecakapan Umum (semacam penilaian kemampuan anak), ketika ia menginjak usia 16 tahun, ia otomatis pindah kedalam golongan penegak. Tidak ada istilah tinggal kelas, karena memang tidak ada kelasnya.

Sungguh menarik, bagaimana sistem among ternyata masih relevan dengan kondisi saat ini. Jika kita ingin menciptakan tunas-tunas bangsa yang unggul, maka dalam kesehariannya seorang pendidik wajib mengimplementasikannya dalam kegiatan sehari-hari. Kemajuan teknologi kita perhatikan melipatgandakan tingkat kesulitan mendampingi anak-anak. Sulit fokus, menunda-nunda pekerjaan, dan kesulitan bersosialisasi, adalah beberapa persoalan anak-anak saat ini. Dengan menguatkan sistem among, diharapkan kesulitan-kesulitan tersebut dapat kita atasi.

Pada akhirnya, prinsip-prinsip sistem among hanya akan menjadi pajangan belaka tanpa struktur dan program kerja yang mendukung. Bagaimana supaya bisa diterapkan dalam kegiatan sehari-hari? Kita akan coba bahas di artikel berikutya.

”Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.”
Ki Hadjar Dewantara

Tuesday, January 19, 2021

Lelah

Pernahkah kamu bertanya, saat pagi datang, dan kamu terbangun dari tidur, lalu membuka mata, mengapa saya masih diberi kesempatan untuk hidup? Apakah akan ada bedanya saya bangun atau tidur untuk selamanya?

Beberapa hari belakangan ini, pertanyaan itu kerap muncul. Perasaan tidak bermanfaat, seperti hanya membuang-buang waktu saja setiap harinya.

Tampaknya depresi mulai datang menghantui. Mungkin efek dari terus bekerja dari rumah.  

Saya terus berusaha meyakinkan diri, hari ini akan jadi lebih baik. Walaupun di akhir hari, ternyata hasilnya sama saja. Tidak jadi lebih baik.

Mungkin butuh tantangan baru, mungkin karena persoalan-persoalan masa lalu yang tidak tuntas sampai sekarang. 

Sebagai anak yang tertua, ternyata saya tidak bisa membantu apa-apa. Saya hanya bisa bersedih saat melihat ibu dan bapak menangis.

Saya juga masih belum bisa melunasi hutang-hutang saya. Jika bukan karena kebaikan orang-orang, entah bagaimana bisa menghidupi keluarga sendiri.

Satu-satunya hal yang membuat bertahan adalah karena saya percaya hidup ini sesungguhnya hanya senda gurau saja. Tempat bermain hingga waktunya nanti berpulang. Mungkin berat, tapi selalu ada orang lain yang hidupnya lebih berat.

Namun sisi depresinya adalah mengapa orang lain tersebut tampak berhasil keluar dari kesulitan-kesulitannya? Sementara saya selalu gagal.

Jadinya sangat melelahkan, kok seperti tidak bersyukur. Tidak ikhlas menerima takdir.

Hasilnya sulit sekali untuk fokus, inginnya menghindar terus dari kenyataan. Mengalihkan diri dengan scrolling media sosial, dan mengerjakan hal-hal tidak penting lainnya.

Entahlah apa yang sebenarnya harus dilakukan. Hingga pada akhirnya saya jadi sering bertanya, apa yang harus saya lakukan? Mengapa berat untuk bisa berubah? Untuk mengubah nasib, tentunya harus mengubah diri.

Malam ini semoga saya bisa menemukan jawabannya. 

Karena sesungguhnya kita ini manusia hanya penumpang di dunia ini. Dunia ini tidak butuh manusia. Manusialah yang membutuhkan dunia. Kita tidak ada pun tidak apa-apa.


"Apa guna keluh kesah, apa guna keluh kesah...

Pramuka tak pernah bersusah, apa guna keluh kesah..."


Tuesday, October 6, 2020

Hari Guru

Saya baru tahu kini ada hari guru dunia. Di sosmed bertebaran meme tentang pentingnya mengapresiasi peran seorang guru. Salah satu posting di sosmed sampai mengistilahkan peran guru itu esensial, tanpa guru maka profesi-profesi lain di dunia ini tidak akan ada.

Bicara masalah guru dan dunia pendidikan ini tidak akan ada habisnya. Sejujurnya dengan pandemi Covid-19 sekarang ini kita perlu bersyukur jadi banyak angin segar perubahan di dunia pendidikan Indonesia, walaupun kita belum tahu apakah perubahan-perubahan tersebut akan berhasil menembus tekanan-tekanan politik yang ada.

Kemudian saat ini kita melihat dengan pembelajaran jarak jauh, semua orang khususnya orangtua mesti berperan juga jadi guru. Pepatah Afrika lama dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak, seperti membuktikan setiap elemen masyarakat harus berperan dalam membentuk pendidikan anak-anak Indonesia. Peran guru itu memang esensial.

Namun hasil survey singkat saya, sangat-sangat sedikit kalau tidak mau dibilang tidak ada, anak-anak jenjang SMP yang cita-citanya menjadi guru. Saya sendiri pun tidak bercita-cita menjadi guru. Karena jadi guru itu sulit sekali. Mirip-mirip artis idola atau tokoh politik yang harus senantiasa melakukan pencitraan/terlihat baik di depan orang-orang. :) Mengapa ya profesi guru ini kurang diminati? Jangan-jangan ada trauma dari anak-anak sewaktu mereka sekolah dulu. Atau mungkin melihat profesi guru tidak menjamin kehidupan yang baik.

Saya pun bertanya lebih lanjut kepada anak-anak, hasilnya menarik, menurut mereka sangat berat jadi guru itu, apalagi kalau harus mengajar anak-anak macam mereka. Sudut pandang yang reflektif, memang tidak semua orang itu bisa menjadi guru, mesti ada kesadaran serta kemauan yang kuat untuk mau terus belajar hal-hal baru, dan bersabar mendengarkan anak-anak serta orangtua.

Bisa jadi pada masa depan karena tidak ada yang mau jadi guru lagi, anak-anak di didik oleh AI (kecerdasan buatan) lalu ditentukan kompetensinya oleh algoritma, cocok kerja sebagai apa. Tidak akan ada lagi sekolah/universitas, karena semua bisa dilakukan secara online.

Tetapi saya kira pada satu titik semua orang membutuhkan seorang guru/mentor dalam hidupnya. Yang membantu kita menemukan hal-hal penting dalam hidup. Rasanya peran ini sangat sulit bisa digantikan oleh mesin. 

Saya ingat baru setelah Shihab putra saya lahir, saya melihat kebutuhan untuk memahami tumbuh kembang anak, pedagogi, konsep-konsep pendidikan, lalu menyadari betapa mahalnya biaya pendidikan saat ini. :) Dan akhirnya berjodoh dengan Semi Palar, yang kebetulan membutuhkan Kakak SMP. Berbekal pengalaman sebagai pembina pramuka, jadilah hingga kini saya menjadi bagian dari Semi Palar.

Di momen teacher day ini, saya ucapkan tetap semangat kepada sesama rekan pengajar! Tetap optimis selalu ada cara untuk bisa memantik semangat belajar anak-anak. Kepada sesama rekan orangtua terima kasih atas segala upaya dampingannya memastikan anak-anak tetap memiliki nilai-nilai keluarga yang luhur.

Setiap niat dan perbuatan baik kita sekecil apa pun yakinlah pasti berdampak pada kehidupan anak-anak, saat ini dan nanti.


Tuesday, March 31, 2020

Hantu Masa Lalu


"Bah, tolong beliin gas, tadi lagi masak air terus gasnya  habis."
"Sebentar Mbu, ini lagi beresin file dulu."

Hari ini menjelang Maghrib, Ambu minta tolong untuk dibelikan gas. Sudah dari sore hujan turun cukup deras. "Jangan lupa bawa payung." Sejak masa kerja di rumah, rasanya sudah lama sekali saya berjalan kaki ke luar. Mungkin sore ini saya dipaksa untuk sedikit berolahraga.

Sambil membuka payung dan menenteng gas 3 kg kosong, saya jalan menuju warung dekat rumah. Jaraknya dekat hanya 5 menit dari rumah. Banjir pikiran mulai merasuk, hari ini sudah 1500 lebih korban covid-19. Tapi bukan itu yang jadi pikiran, karena tiap hari terus-terusan dibombardir berita wabah covid-19, sangat sulit untuk tidak otomatis memikirkannya. Sesampainya di warung ternyata warungnya tutup. Saya coba mengetuk siapa tahu bapak/ibu yang punya warung masih ada di rumah. "Punten..." Beberapa kali mengetuk, ternyata tidak ada yang menyahut. Azan Maghrib berkumandang. Dan hujan makin deras.

Hari ini mengapa saya merasa takut? Mungkin bawaan lahir saya penakut? Saya coba menghilangkan pikiran tersebut.

Saya putuskan untuk mencari gas di warung lain. Karena hidup di kecamatan terpadat Kota Bandung, yang namanya warung itu selalu bisa kita temui di setiap belokan. Saya coba berjalan ke arah sungai, di sana kata Ambu ada dua warung yang juga jualan gas.

Takut apa? Saya coba mengingat-ngingat. Takut kena covid-19? Rasanya bukan. Walaupun memang ngeri kalau beneran sampai kena. Sejak awal tahun perasaan ini kerap muncul. Kelebatan ingatan terus datang dan pergi.

Sesampainya di warung tepi sungai, ternyata gasnya habis. Saya pergi ke seberang sungai, sama ternyata gasnya juga habis. Lumayan nih, olahraga angkat beban. Hehe. Saya putuskan berkeliling lagi mencari warung yang menjual gas.

Mungkin saya takut menerima kenyataan. Bahwa saya tidak mampu, tidak  becus jadi orang. Saya ingat, satu hari Ambu bilang, "Bah, makanan habis, gak apa-apa sih untuk kita mah, bisa puasa. Tapi untuk anak-anak gimana?" Lalu ingat kala bapak mengirimkan sms minta tolong untuk ditransfer uang untuk beli obat.

Tapi hal itu kan sepele. Orang lain, bahkan lebih susah. Sementara saya dan keluarga alhamdulillah masih sehat. Bahkan saat tersulit pun saya selalu bersyukur selalu ada yang menolong. Allah Swt. selalu baik kepadaku dan keluargaku.

Satu hal yang pasti saya sangat sering melakukan kebodohan. Akibatnya saya jadi banyak utang. Selain utang uang, juga utang janji. Entah bagaimana menebusnya. Ngeri rasanya membayangkan kelak saat meninggal, keluarga malah direpotkan oleh utang-utang saya tersebut.

Kenapa malah jadi banyak mengeluh? Utang saya kan gak seberapa, gak sebesar utang negara.

Setelah berkeliling, saya ternyata sudah kembali ke jalan tempat warung yang pertama, tanpa hasil. Hujan masih deras, payung tak mampu meladeni derasnya hujan. Saya akhirnya mencoba lagi datang ke warung tersebut. Alhamdulillah ternyata warungnya buka. Bapak yang punya warung tadi sepertinya lagi salat, jadi tutup dulu. Sambil memberikan uang untuk bayar gas, saya tersadar, bahwa pikiran-pikiran itu adalah hantu masa lalu. Pikiran-pikiran itu yang membuat saya takut sendiri.

Sambil basah kuyup, tangan kanan memegang payung, dan tangan kiri menenteng gas saya berjalan pulang.

Hantu masa lalu itu memang menakutkan, semakin dipikirkan semakin ia menjadi kenyataan. Ia  akan terus datang dan menghabisi harapan hari ini. Betul tidak ada yang tahu hari esok itu akan seperti apa. Betul juga banyak hal bodoh yang saya lakukan, yang membuat saya dan keluarga seperti sekarang. Tapi masa lalu tidak akan bisa kita ubah.

Semakin dipikir malah semakin tidak ketemu jawabannya. Ya sama lah dengan kasus wabah covid-19 sekarang. Kita ternyata seringkali tidak belajar dari masa lalu. Masa pandemik sudah pernah kita alami, tapi setiap masa pandemik itu muncul, kita selalu tidak siap.

Sejak banyak kabar simpang siur tentang diam di rumah, karantina wilayah, dsb. Malah membuat banyak orang pulang kampung. Karena memang sulit, tinggal di kota besar malah rugi, gak cukup penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari. Daripada kelaparan ya mending pulang kampung. Walaupun resikonya malah jadi pembawa virus covid-19 ke kampung halaman.

Manusia memang makhluk egois. Saya pun sama saja. Dari awal diduga kuat virus ini muncul karena manusia tidak bisa menjaga keseimbangan alam. Kelak jika wabah ini usai, kehidupan akan kembali normal, dan manusia kembali merusak alam. Lupa baru saja kemarin telah terjadi wabah pandemik. Hantu masa lalu, menjelma jadi hantu masa depan.


"The Sound Of Silence"

Hello, darkness, my old friend
I've come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone
'Neath the halo of a streetlamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night
And touched the sound of silence

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share
No one dared
Disturb the sound of silence

"Fools," said I, "You do not know
Silence like a cancer grows
Hear my words that I might teach you
Take my arms that I might reach you."
But my words like silent raindrops fell
And echoed in the wells of silence

And the people bowed and prayed
To the neon god they made
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming
And the sign said, "The words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls
And whispered in the sounds of silence."



Friday, August 9, 2019

Menempati Ruang-ruang Baru

Cosmic ‘Winter’ Wonderland
Bulan lalu saya mengikuti satu seri dokumenter BBC Earth yang berjudul The Planets. Dipandu oleh Prof. Brian Cox, seri tersebut menceritakan bagaimana kita sebagai manusia berhasil mengeksplorasi tata surya hingga batas-batas tertentu, dan menjelaskan bagaimana bumi itu unik, dan menjadi satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Dimulai dari pembentukan matahari sebagai pusat dari tata surya, lalu sisa-sisa dari pembentukan matahari tersebut berkumpul dan beredar/berevolusi dan saling bertumbukan hingga membentuk planet-planet.

Empat planet yang paling dekat dengan matahari adalah merkurius, venus, bumi, dan mars. Empat planet yang memiliki batuan. Lalu ada planet gas raksasa, jupiter dan saturnus, serta di paling luar terdapat planet es, uranus dan neptunus.

Menarik untuk dicermati, karena ketika matahari masih muda cahayanya itu masih redup. Sehingga memungkinkan planet seperti venus dan mars yang bertetanggaan dengan bumi diduga sempat memiliki air yang mengalir.

Namun, seiring dengan usia matahari yang terus bertambah, cahayanya pun semakin kuat, sehingga venus terpanggang akibat dari efek rumah kaca atmosfernya sendiri. Saking panasnya, air hujan menguap sebelum dapat menyentuh permukaan venus. Menjadikan venus sebagai planet terpanas di tata surya, walaupun jaraknya bukan yang terdekat dengan matahari.

Mars pun memiliki nasib yang mirip dengan venus, karena ukurannya yang lebih kecil dari bumi, atmosfer mars diduga tidak dapat bertahan dari serangan badai matahari. Hingga akhirnya mars jadi planet yang tidak bisa mendukung kehidupan seperti bumi.

Bumi adalah satu-satunya planet dalam tata surya yang memiliki keberuntungan jarak yang tepat serta memiliki medan magnet yang membuat atmosfer bumi bertahan dari serangan badai matahari. Keunikan ini berhasil menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk terciptanya air, dan pada akhirnya terciptalah kehidupan di bumi.

Belajar dari tata surya, memang begitulah alam bekerja, seperti acak, namun semua terjadi dengan sangat presisi, seperti sudah diatur demikian. Jika jarak bumi bergeser sedikit saja, atau ukuran dan komposisi pembentuk planetnya tidak pas, maka kehidupan di bumi tidak akan terjadi. Bahkan planet-planet yang jauh seperti jupiter, ternyata berperan untuk menjaga asteroid tetap berada di posisinya berkat tarikan gravitasi yang dimilikinya.

Kelak, matahari pun akan mencapai batasnya, diperkirakan usianya 7 miliar tahun lagi. Matahari akan semakin panas, dan saat itu terjadi kondisi bumi akan seperti planet venus. Tapi bukan tidak mungkin di masa itu manusia telah memiliki teknologi untuk hidup di luar angkasa dan menemukan planet-planet yang bisa dihuni.

Dibandingkan usia alam semesta, maka usia kita manusia hanyalah setitik saja. Namun betapa menakjubkannya, kita berhasil menguak sedikit misteri miliaran tahun pembentukan alam semesta dan tata surya. Kemudian layaknya alam semesta, kita pun tanpa sadar turut berputar mengelilingi pusat alam semesta.

Dalam lingkup kehidupan saya saat ini, Semi Palar itu analoginya adalah matahari, dan seperti halnya di tata surya, ada yang bergerak menjauh dari pusat, ada pula yang mendekat. Semi Palar adalah seperti pusat bagi saya, yang berkat gravitasinya menarik saya untuk beredar dan turut serta bertumbuh dan berkembang. Walau seperti kekacauan, namun semua saling mengisi, ruang-ruang yang kosong selalu berganti ada yang menempati.

Menempati ruang-ruang baru berdasarkan pengalaman saya pribadi selalu tidak mudah. Tahun ini, saya mengambil peran sebagai KJ, lalu tahun ini pula, saya mengambil peran sebagai orang tua yang baru menyekolahkan anaknya. Mengapa tidak mudah? Karena kekacauan selalu menyertai, hingga akhirnya terbentuk garis edar yang stabil. Berapa lama? Tidak ada yang dapat memastikan. Beberapa kekacauan bahkan ada yang terus menyertai dan tidak kunjung selesai.

Kesulitan-kesulitan kerap muncul di tempat-tempat yang tidak terduga. Menguras energi dan emosi, karena setiap hari kita harus tampil prima memfasilitasi teman-teman di kelas dan bekerja sama dengan orangtua. Sementara mungkin kita tengah berbenturan dengan rekan kerja, atau tengah sakit, lalu ada kejadian tidak terduga menyangkut orang-orang/keluarga yang kita sayangi. Seperti hujan asteroid yang diduga memusnahkan era dinosaurus di bumi dulu.

Namun, ruang-ruang baru itulah yang menjadikan kita bisa terus berkembang. Dibutuhkan keberanian dan usaha yang tidak sedikit, bahkan mungkin 'kenekatan', supaya bisa berjalan beriringan menuju pusat yang sama. Menemukan solusi-solusi baru, produk-produk inovatif, demi masa depan pendidikan anak-anak Indonesia.

The purpose of life is to obey the hidden command which ensures harmony among all and creates an ever better world. We are not created only to enjoy the world, we are created in order to evolve the cosmos. 
-Maria Montessori

Thursday, February 21, 2019

Mengapa Perjalanan Besar?

Desember 2014. Shihab baru berusia 6 bulan. Seorang teman di Pramuka menawarkan pekerjaan untuk jadi seorang guru. Sebelum Shihab lahir tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk beralih profesi jadi seorang guru. Tapi ada satu hal yang bikin saya penasaran, kabarnya sekolah ini mirip dengan Pramuka, banyak berkegiatan di luar kelas, dan nilai pelajaran bukanlah jadi sasaran utama dari sekolah ini.

Jadilah saya berkunjung saat itu, ditemani Teh Santi, saya bertemu Kak Listi yang dengan ramah memperlihatkan sekolah unik tersebut, ya, sekolah yang bernama Rumah Belajar Semi Palar.

Orang-orang bilang, saya tidak peka, dan seringkali 'teu make rarasaan’, tapi insting saya saat itu bisa mencium, ini adalah satu sekolah yang secara konsep sangat menarik, dan saat itu sangat kebetulan, mereka sedang kekurangan kakak fasilitator. Panggilan kakak sangat akrab di telinga saya, karena itu panggilan di Pramuka. Walaupun para siswanya tidak dipanggil adik-adik tapi teman-teman.

Sekolah yang kesannya 'nyantai’, tapi saya tahu dibalik itu, ada banyak sekali perangkat yang tidak terlihat.

Saat berkunjung ke ruangan kelas 8, saya langsung tertarik dengan buku hasil kelompok Marlin. Sebuah buku hasil Perjalanan Besar napak tilas jejak Kerajaan Mataram. Sejenis karyawisata yang dikemas seperti pengembaraan/backpacker. Siapapun yang berani mencetuskan ide ini, juara idenya. Tingkat olahan serta kerumitan tinggi, yang mungkin hanya bisa dirasakan oleh kakak pendampingnya saja.

Dari membaca sekilas buku tersebut saya yakin, mungkin ini jawaban untuk mengatasi carut marut pendidikan di Indonesia. Tentunya ini hanyalah alternatif solusi, namun kegiatan tersebut nyata berhasil menciptakan kerja sama yang sangat baik antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Mengapa Perjalanan Besar?

Setelah tiga kali mendampingi teman-teman kelas 8 melakukan Perjalanan Besar. Saya menyadari tidak ada satu kelompok yang serupa. Setiap kelompok memiliki kekhasan masing-masing. Setiap kelompok memiliki tantangan serta situasi yang unik. Tidak ada jaminan, sebuah Perjalanan Besar itu akan lancar dan sukses. Karenanya, kerja sama antar semua pihak jadi kunci.

Tahun ini, saya bersama Kak Imeh, diberi kesempatan untuk mendampingi kelompok Marmer melakukan Perjalanan Besar. Kekhawatiran selalu ada tentu saja. Saya terus bertanya, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Dapatkah kami mengatasinya?

Sama halnya seperti saat saya mendampingi adik-adik Pramuka, melakukan hiking, perkemahan, dan kegiatan alam terbuka lainnya. Bagaimana sebagai orang tua, dengan sedikit banyak keraguan menitipkan putra-putrinya kepada saya. Dan tentunya kemampuan setiap anak itu berbeda, kewajiban saya untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing anak. Memastikan selama kegiatan semua selamat.

Bagaimana sebagai seorang anak, mereka punya ekspektasi tinggi, bahwa kegiatan bakal seru dan menantang. Sementara kakak butuh yakin keamanan sepanjang kegiatan. :)

Harapannya, menjelang Perjalanan Besar semua persiapan sudah dilakukan, dan kegiatan dapat berjalan lancar.

Karena sebuah perjalanan adalah kesempatan. Bukan untuk mencapai garis akhir, tapi untuk menikmati dan menghargai setiap prosesnya.

“Travel isn’t always pretty. It isn’t always comfortable. Sometimes it hurts, it even breaks your heart. But that’s okay. The journey changes you; it should change you. It leaves marks on your memory, on your consciousness, on your heart, and on your body. You take something with you. Hopefully, you leave something good behind.”

– Anthony Bourdain

Monday, November 26, 2018

Sebuah Catatan

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Satu semester sudah habis. Apakah ada perubahan berarti bagi diriku? Apakah aku menjadi lebih baik? Apakah aku tengah bergerak menuju atau malah menjauhi cita-citaku? Apakah aku semakin percaya diri atau malah tidak yakin dengan kemampuanku? Apakah aku semakin dekat atau semakin jauh dengan teman-temanku?

Apakah aku terus mengeluh setiap hari? Apakah aku bercanda terus? Apakah aku sudah menghargai orang-orang di sekitarku? Apakah aku masih menunda-nunda pekerjaan? Apakah aku sudah bisa mengatur waktuku? Apakah aku malah menyia-nyiakan hidupku?

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Setiap hari saat bangun dari tidur. Apakah aku siap menghadapi hari? Apakah aku tahu apa yang ingin aku capai hari ini? Apakah aku berani menghadapi tantangan hari ini? Apakah aku takut? Apakah aku bisa hadir sepenuhnya hari ini?

Saat malam hari tiba. Aku kembali bertanya. Apakah aku sudah bisa membantu orang lain? Apakah aku sudah berbuat satu kebaikan? Apakah aku sudah melakukan yang terbaik? Apakah aku lebih banyak jujur atau berbohong? Jika aku tertidur dan bangun lagi, apakah aku akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama? Jika aku tertidur dan tidak bangun lagi, apakah bekal hidupku sudah cukup?

Mengapa begitu sulit untuk berubah jadi lebih baik?

Apakah aku sungguh-sungguh ingin berubah?

Saturday, September 1, 2018

Ruh Itu Tidak Mati

Jumat, 31 Agustus 2018, 21:00

Ada telepon via wa masuk, memberi kabar nenek saya dari pihak ibu meninggal dunia sekitar pukul setengah 8 malam. Nenek memang sudah sepuh, dan sakit-sakitan, namun tetap saja malam itu tidak ada tanda-tanda beliau sakit. Malam itu nenek minta dibelikan roti oleh sepupu saya. Namun saat kembali nenek sudah tiada.

Ke-riweuh-an langsung muncul. Gimana caranya ngasih tahu ibu? Karena malam itu juga bapak lagi tidak ada di rumah, karena kebetulan sedang ada di rumah ibu tiri saya.

"Bapak gak akan ke Metro, besok pagi langsung ke Cimahi pake angkot." Begitu kabar dari bapak. Jadi weh, tugas saya yang harus ngasih tahu ibu.

Setelah berdiskusi dengan adik-adik, sepakat dikasihtahunya besok pagi aja, karena mun malem langsung dikasihtahu, kemungkinan ibu kambuh sakitnya dan jadi double riweuhnya.

Teh Santi mah bilangnya, udah aja langsung malam ini ke Cimahi bareng ibu. Ibu pasti ingin lihat nenek untuk terakhir kali. Sementara buat saya pribadi sebetulnya kalau udah meninggal kan udah gak bisa diajak ngobrol yah? Jadi untuk apa lihat doang? Bukannya malah bikin tambah sedih yah?

Ke-riweuh-an lainnya, besok saya harus mendampingi anak-anak pramuka SMPN 13 hiking ke Dago Pakar. Dibatalkan aja gitu?

Ah sarekeun we lah...

Sabtu, 1 September 2018, 03:00

Alarm berbunyi. Teh Santi ngebangunin untuk siap-siap ke Metro. Semalem mimpi malah mimpi yg aneh-aneh, mungkin karena hari ini bangunnya kepagian.

Setelah beberes, dan salat subuh, saya berangkat pake gojek ke rumah ibu, lalu mengabari lewat grup line pramuka, saya akan datang telat untuk kegiatan hiking hari ini karena semalam nenek meninggal dunia.

Sampai di metro, ibu terbangun karena saya datang. Ibu lagi tiduran di kasur di ruang tengah. Saya duduk di sebelahnya, langsung bilang, "Bu, nenek ngantunkeun, tadi malam jam setengah 8. Sekarang semuanya, bapak dan adik-adik lagi otw Cimahi. Hayu Bu berangkat" Ibu kaget sebentar, terus langsung bangun. Saya tawarin untuk mandi dulu, gak usah katanya. Jadi ibu hanya ganti baju, dan pakai kerudung.

Bersama adik saya yang bungsu, berangkatlah kami ke Cimahi pakai grab.

Sampai di Cimahi, bapak sudah ada di sana. Nenek sudah dimandikan dan disalatkan. Ibu hanya lihat sebentar terus langsung keluar lagi dan mau pulang. Tapi oleh paman ditahan supaya mau tinggal sampai pemakaman beres.

07:00

Adik-adik saya datang. Saya lalu pamit, untuk berangkat ke 13 terus ke rumah. Rencana awalnya, saya ke 13 terus minta ada yg gantikan nemenin anak-anak hiking, terus ke rumah, jemput Teh Santi dan anak-anak, terus balik lagi ke Cimahi. Biar keburu lihat nenek dimakamkan.

Tapi di 13 ternyata gak ada yang lain yang bisa menggantikan saya, cuma ada saya sendiri. Anak-anak ber-18 orang sudah siap untuk berangkat. Ya sudah, berarti ganti rencana. Nemenin anak-anak hiking dulu, siang pulang ke rumah, sore ke Cimahi lagi.

10:00

Keluarga pada nanya, saya ada di mana. Saya bilang, "Lagi nemenin anak-anak pramuka di Dago Pakar." Sigana teh, di benak keluarga, kumaha si aa teh batur keur riweuh ieu kalahka ulin.

12:00

Anak-anak senang dan cape, jalan dari Terminal Dago - Curug Dago - PLTA Bengkok - Gua Jepang - Gua Belanda. Teriak-teriak dalam gua, dan ketemu banyak monyet di sekitar gua. Terus karena sayanya tiis, tanpa ekspresi, kejadian nenek meninggal, tidak berpengaruh.

14:30

Sampai di rumah. Akhirnya bisa makan, dari pagi belum makan, dan terus siap-siap ke Cimahi.

16:00

Stasiun Kiaracondong, cukup penuh. Biar murah, ke Cimahinya pakai kereta. Pas kereta datang, hujan turun.

17:30

Alhamdulillah akhirnya sampai di Cimahi lagi. Teh Santi bantu beberes bentar, sambil jagain dua bocah, terus selepas maghrib ikut acara tahlilan.

Minggu, 2 September 2018, 2:20

Masih di Cimahi, karena kecapean, semalam jadinya nginep di rumah nenek. Sekarang saya bangun, karena tengah malam Shihab ngompol. Jadi malah gak bisa tidur lagi.

Disebut meninggal, itu karena dua hal: jantung berhenti berdetak atau otak berhenti berfungsi. Tapi ruh itu tidak mati. Ruhnya tetap hidup. Walau mungkin bagi yang ateis mah, habis mati ya sudah, gak ada apa-apa lagi.

Seperti apa ya kehidupan setelah kematian?

Jawabannya: sama seperti hidup, pada akhirnya semua akan mencari titik kesetimbangan. Alam semesta selalu berlaku demikian. Seperti organ tubuh kita menyeimbangkan diri dengan homeostasis, lalu hukum konservasi/kekekalan energi, pada akhirnya kematian pun sama, semua seimbang dengan tubuh kita yang kembali ke tanah, dan ruh kita yang kembali pulang kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Keseimbangan.

Ingatan saya tentang nenek hanya selewat-selewat. Saya ingat sewaktu kecil sering jalan-jalan dengan nenek di Cimahi, beliau seorang guru, dan sangat hobi bersih-bersih.

Sewaktu saya dewasa, hubungan dengan nenek seringkali dalam waktu seperti saat lebaran atau saat nenek ngasih tahu ibu saya datang ke Cimahi sendirian. Pernah satu kejadian, saya datang malam-malam ke Cimahi untuk jemput ibu. Terus karena sudah tengah malam, akhirnya nginep di sana. Subuh datang, nenek membangunkan saya, "Aa, ibu mana?" Saya langsung bangun, mencari, ternyata ibu sudah pergi lagi, ntah kemana sewaktu saya tidur.

Selamat jalan nenek, hampura ieu incu nu sok bedegong, hampura pun biang sok ngaririweuh nenek, mudah-mudahan amal ibadah nenek ditampi ku Allah SWT. Aamiin.

Wednesday, June 13, 2018

Butuh Waktu Berapa Lama Sampai Kamu Menyadarinya?

Apa itu kebenaran? Apakah itu hanya hasil kesepakatan bersama? Kalau begitu bumi ini bisa datar atau bulat, tergantung kita bersepakat dengan pendapat yang mana.

Disebut benar, apakah itu pendapat seorang tokoh? Karena dia berkata demikian, maka pasti benar. Kalau begitu caranya, kebenaran itu ada banyak, tergantung sudut pandang kita.

Apakah disebut benar kalau itu dapat dirasakan oleh panca indra kita? Tapi setiap orang boleh jadi merasakan hal yang berbeda.

Jadi bagaimana kita tahu kebenaran?

Kebenaran itu hanya ada satu. Kebenaran tidak tergantung panca indra atau pendapat kita. Ia memang begitu adanya. Berlaku seperti hukum alam. Berupa suatu fenomena yang terus berulang. Pasti terjadi seperti datangnya siang dan malam.

Sayangnya saya kerap mengabaikan kebenaran.

"Waktu terus berlalu, takkan pernah kembali", adalah salah satu kebenaran yang selalu saya lupakan.

Masih ada nanti, masih ada besok, itu bukanlah kebenaran, melainkan pembenaran.

Saat mencari kebenaran, panca indra dan pikiran saya seringkali menipu. Saya lebih sering mencari 'kebenaran' yang saya sukai saja. Saya takut menghadapi kebenaran.

Seperti saat masuk pertengahan bulan, dan melihat rekening kosong, kebenaran itu selalu sulit diterima. Terutama saat ada keluarga yang sedang membutuhkan.

Seperti saat pagi tiba, bagaimana tubuh ini memaksa untuk tetap tidur, padahal tidak ada apapun yang mengikat saya di tempat tidur.

Seperti saat melihat diri saya sendiri, mengapa takut menghadapi perubahan? Sementara perubahan itu senantiasa pasti terjadi.

Di nurani terdalam, kebenaran itu satu. Ia tidak disusupi nafsu, maupun pendapat kita. Lewat kebenaran itu kita dapat memimpin dan mengambil keputusan setiap harinya.

Cara yang paling mudah menemukan kebenaran adalah dengan melakukan kesalahan. 

Hari ini benar adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Benar banyak hari sudah saya sia-siakan. Benar bahwa saya sering lupa bersyukur dengan semua yang saya miliki. Mestinya kan, setelah melakukan kesalahan ya sudah tidak mengulanginya lagi. 

Tapi memang begitulah adanya, berjalan di atas kebenaran selalu penuh tantangan. Semoga jalan ini pun benar jalannya. Itulah sebabnya kita selalu berdoa, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

Selamat jalan bulan Ramadhan, semoga dapat berjumpa lagi tahun depan.

Saturday, June 2, 2018

Ku tak bisa jauh... Jauh darimu...

22:26

Sudah lewat jam sepuluh malam. Saya masih berkutat dengan pekerjaan. Betapa beratnya pekerjaan apabila ternyata itu bukan panggilan hati dan passion yang tepat. Tapi apakah passion itu datang duluan? Apakah mungkin kita menemukan passion dulu baru memilih pekerjaan? Bukankah kesempatan dan peluang setiap orang itu berbeda-beda?

Jadi yang paling tepat tampaknya kita mencoba dulu berbagai hal di dunia ini, lalu mencari kira-kira pekerjaan apa yang dapat menjadi sumber penghidupan dan kita bisa berkontribusi banyak di situ. Pilihan kita yang pada akhirnya menentukan, tapi tahu darimana kalau pilihan kita ini sudah benar? Ya memang tidak ada yang tahu. Sama halnya seperti nanti setelah mati, apakah kita akan masuk surga atau neraka? Ya tidak ada yang tahu.

Kalau begitu hidup ini untuk apa? Apakah untuk coba-coba? Ya bisa jadi demikian. Coba aja dulu, nanti baru lihat hasilnya seperti apa. Hehehe. Tapi kan mestinya ada sistem supaya kita bisa setidaknya mengurangi resiko kegagalan. Memang betul, tapi sistem pun awalnya pasti coba-coba. Dan yang namanya sistem kadang cocok-cocokan dengan penggunanya.

Malam ini, saya percaya Tuhan ingin kita untuk mencoba dulu saja. Mencoba untuk berani, untuk tidak memikirkan bagaimana nanti. Mencoba untuk memulai, karena langkah pertama itu selalu yang paling sulit. Mencoba untuk mencoba lagi, tentunya dengan strategi yang berbeda, karena setiap masalah itu pasti ada solusinya. Yuk mari....

Friday, May 18, 2018

Bertemu Lagi dengan Bulan Ramadhan

Setiap tahun, bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk saya melakukan refleksi diri. Melihat kembali sudah sejauh mana saya berubah, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan dan juga saya berikan selama satu tahun terakhir.

Sejak Ramadhan tahun lalu, saya ingin bisa melunasi semua hutang-hutang saya. Apakah bisa? Yang satu ini tampaknya selalu gagal. Sudah bertahun-tahun goal yang satu ini bertengger di daftar prioritas tapi tidak pernah berhasil dicapai.  Penyebabnya, karena memang pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan. Perlu sumber pemasukan lain supaya masalah satu ini teratasi. Setelah bertahun-tahun, belum ada satu pun solusi yang berhasil. Tapi ada banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari sini.

Pertama: Semua itu butuh modal. Apa pun usaha yang akan dirintis, semua butuh modal, baik itu uang, tenaga, waktu, pengetahuan, koneksi, pengalaman, dll. Tanpa modal tidak akan jadi usaha.

Kedua: Mulai saja. Langkah pertama selalu paling sulit, memulai itu tidak pernah mudah. Takut ini lah, takut itu lah, atau selalu merasa tidak siap. Setelah mulai, akan banyak peluang muncul, tapi itu berarti kesulitan akan terus bertambah. Kalau gampang mah, semua saja bikin usaha sendiri. Saat posisi di bawah, akan ada hal yang bikin kita terus di bawah dalam waktu lama, naik sedikit, terus turun lagi. 

Ketiga: Tidak boleh menyerah, walau gagal terus, ya tetep harus usaha terus. Itu satu-satunya cara. 

Keempat: Komitmen dan konsistensi. Ini menurut saya hal yang tersulit. Kita bisa bermimpi apa saja, tapi pada akhirnya tanpa komitmen dan konsistensi semua akan sia-sia.

Kelima: Saat semua usaha sudah dilakukan, maka berdoalah. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Talk is easy, right? 

Setiap pagi saya bertanya, apa yang tetap membuat saya tetap bangun dari tidur?
Apakah bisa saya jadi lebih baik dari hari kemarin?
Apakah saya bisa menepati janji-janji saya? Rencana-rencana saya?

Tidak ada yang tahu kan? Apakah saya akan berhasil hari ini atau tidak? 

Jadi, mari kita selesaikan satu per satu. #MarhabanYaRamadhan

Sunday, March 11, 2018

Inkonsistensi

“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.” -Albert Einstein

Berapa kali kamu mengalami kegagalan sepanjang hidupmu?
Kapan kamu terakhir kali gagal?
Apa akibat dari kegagalan tersebut?
Bagaimana caramu memperbaikinya?

Mengulangi kesalahan dan mengalami kegagalan adalah pengalaman yang konyol. Karena buat saya itu seperti dosa harian. Terus dilakukan, walau tahu itu salah. Masuk lagi ke dalam lubang yang sama, keluar, lalu masuk lagi.

Contoh sederhana: pasang alarm jam 4, bangun, matikan alarm, terus tidur lagi, bangun jam 5 atau setengah 6, beberes, berangkat kerja, datang mepet atau terlambat, kerja, pulang, istirahat, tidur malam, terus berulang lagi. Satu dua kali bisa betul bangun jam 4 terus tidak tidur lagi, terus jadi tepat waktu, tapi besoknya berulang lagi kesalahan yang sama.

Mengapa selalu melakukan kesalahan yang sama?

Mengapa tidak berbuat sesuatu yang berbeda?

Dan menariknya itu berlaku di hampir semua lini. Seperti renacana mau olahraga, rencana mau nabung, rencana mau sekolah lagi, dan rencana-rencana lainnya. Jalan sebentar tapi terus kembali lagi ke rutin lama. Kalah oleh malas, kalah oleh kesibukan, akhirnya gagal lagi...

“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda.” -Albert Einstein

Contoh yang lain: mencoba rutin menulis. Sulitnya bukan main, ada saja kendalanya. Luar biasa teman-teman yang selalu bisa mengalokasikan waktu untuk bisa menulis. Bahkan nulis status pun buat saya itu sulit. Kudu ada kejadian dulu atau bener-bener gak ada kerjaan, barulah bisa nulis.

Bagaimana cara orang-orang bisa konsisten menjaga rutin mereka?

Bagaimana cara orang-orang bisa rutin olahraga, rutin membaca, rutin menulis, rutin menabung, rutin makan sehat, rutin bangun pagi, rutin ngobrol dengan keluarga, rutin belajar hal-hal baru?

Kok susah untuk bisa konsisten, minimal satu hal saja.

Coba 21 hari, coba dari hal yang kecil.

Rasanya sudah coba, tapi tetep we kalau udah lewat 21 hari, balik lagi ke kebiasaan lama. Kenapa ya?

Satu-satunya yang selalu konsisten itu, kayaknya buka media sosial, dan browsing internet. Hahahaha

Udah ikut grup blogger di Smipa pun kurang memotivasi diri ini untuk bisa jadi lebih produktif. Padahal kan keuntungannya banyak. Minimal bisa sharing pengalaman, dan mengasah tulisan. Kan gak mungkin bisa langsung jadi ahli menulis.

Lebih jauh lagi, bagaimana bisa menularkan konsistensi kepada teman-teman di kelas, kalau saya sendiri pun masih kesulitan?

Pertanyaan menarik. Percuma rasanya, senang melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut.

Saya harap penyakit ini cepat sembuh.

Monday, December 25, 2017

T A N A H

15 Desember 2017
Pagi hari
Di ruangan kelas 9
Sedang mengerjakan rapot
Tiba-tiba ada wa masuk di grup keluarga,

Teh santi happy bday, semoga panjang umur, sehat selalu, diberikan rezeki berlimpah,happy selalu


Waduh, saya lupa hari ini istri ulang tahun... Keasikan bikin rapot... Hahaha... padahal mah memang gak pernah inget. Maaf ya Mbu...

Desember adalah hari lahir dua perempuan hebat, ibuku dan istriku.

Di penghujung tahun 2017, saya masih belum bisa berbuat banyak untuk keduanya. Alasannya klasik, tidak ada uang. Membuatku jadi bertanya-tanya, memang kenapa kalau tidak ada uang?

Coba kita lihat, saat ini semua hal pokok harus diganti uang, dan semua akan menuju ke sana, tinggal menunggu udara yang kita hirup jadi berbayar saja.

Kecuali kita berbuat sesuatu.

Setiap hari kita membeli kebutuhan pokok, seperti makan, minum, listrik, air bersih, gas, transportasi, menjaga kesehatan, pendidikan, dan bersosialisasi. Belum lagi kalau satu hari anggota keluarga ada yang tertimpa musibah seperti sakit atau yang lain. Plus tentunya biaya untuk rekreasi.

Kenapa sepertinya hidup teh makin mahal? Mengapa teknologi makin maju teh malah bikin kesenjangan tambah parah?

Akibat populasi makin padat dan globalisasi?

Sebagai generasi millenial, terlihat kesejahteraan hidup makin sulit didapat. Kalau sejahtera itu diukur dengan harta, maka generasi millenial berada dalam kesulitan. Makin banyak yang tinggal bareng ortu, makin banyak yang hasil usahanya gak bisa beli aset, makin banyak yang jadi pengangguran karena perusahaan bangkrut.

Jadi mending jangan ukur sejahtera dengan harta, walaupun bakal sulit, karena media-media sosial, mempertontonkan gaya hidup yang glamor. Banyak duit itu sama dengan sejahtera.

Tapi tidak bisa dipungkiri, semua itu saling terkait, jika negara ingin ambil bagian maka ada persoalan utama untuk diatasi, yaitu tanah.

Saat ini, sangat tidak masuk akal, kerja di pusat kota, tapi tinggal di kabupaten. Udah mah jauh, macet pula. Hidup/kerja itu habis di jalan. Tata wilayah kota harus diperbaiki. Bisa dibilang, yang punya kebijakan saat ini kurang ngerti peliknya masalah tanah ini. Karena mereka mah punya. Dan buat mereka harga tanah makin mahal ya makin bagus. Sementara buat rakyat mah di pinggir we, jauh-jauh. Hehehe.

Gimana bisa punya waktu berkualitas bersama keluarga, yang ada capek. Sampai rumah langsung menggoler.

Bayangkan jika tata wilayahnya diperbaiki. Tiap wilayah itu ada perumahannya, perkantoran, pusat perdagangan, serta tempat rekreasi. Tentunya kota akan lebih sehat. Moal pabeulit siga ayeuna.

Tapi kumaha carana? Selama mindsetnya prinsip ekonomi mah ya sudahlah...

Betapa sedihnya kelak generasi anak cucu kita, yang bisa punya rumah tengah kota hanya segelintir orang saja. Itu pun sudah dalam bentuk apartemen, bukan lagi rumah hak milik.

Mending ka desa we lah, membangun yang baru jauh dari kota.

Tapi terus teh desana ancur kusabab orang kota nu ka desa hoyong aya mall-mall jeung pabrik-pabrik, plus jalan tol, sareng jalan layang, terus bere we taman. Hahahaha

Jadi lieur...

Catatan: saat ini Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia menghasilkan kerugian luar biasa akibat kemacetan setiap harinya. Solusinya bukanlah penataan ulang wilayahnya, tetapi pembangunan jalan tol dan jalan layang. Perumahan makin mahal dan makin jauh dari pusat kota. Bayangkan setiap hari seorang anak, pulang pergi rumah - sekolah perlu 2-3 jam. Begitu pula para orangtua yang bekerja, perlu waktu yang sama untuk pulang pergi rumah - kantor. Untuk mengatasinya orang-orang beli kendaraan pribadi atau pakai taksi online, yang mana mengakibatkan jalanan malah makin padat.

Saya ingat dulu, waktu SD mau ke sekolah itu tinggal pakai becak atau jalan kaki, tidak sampai 30 menit sudah sampai sekolah.

Tapi itu kan dulu... Dan itu baru persoalan tanah, belum masalah air, energi, pangan, kesehatan, kesenjangan, dst... Waw banyak warisannya... Maafkan generasi bapakmu ini nak.

Semoga tahun 2018-2019, saya dan keluarga bisa mulai beli tanah, bangun rumah, yang jauh dari hiruk-pikuk kota.