Showing posts with label pramuka. Show all posts
Showing posts with label pramuka. Show all posts

Sunday, August 25, 2024

24 Tahun Memandu

Bulan Agustus 2024 ini menandai sudah 24 tahun saya bergabung di dunia kepanduan. Tantangan-tantangan apa saja yang muncul? Dan apakah kepanduan khususnya pramuka masih relevan di tengah modernisasi global saat ini?

Tidak bisa dipungkiri, dunia kepanduan khususnya kepramukaan di Indonesia itu kental dengan militer. Karena memang asal muasalnya pun dari Lord Baden Powell yang seorang militer. Dari mulai sistem kecakapan hingga seragam dibuat mirip militer.

Tapi isinya tentu saja berbeda, dalam kepanduan yang diutamakan adalah kegiatan-kegiatan yang seru, menantang, dan menyenangkan. Disesuaikan dengan kebutuhan remaja sesuai dengan usianya.

Ada banyak hal yang saya pelajari. Di awal saat masa remaja saya adalah peserta didik atau anggota dari Gerakan Pramuka yang ikut bergabung ke dalam pasukan penggalang kemudian ambalan penegak. Dan baru sejak tahun 2000an, saya beranjak masuk ke anggota dewasa atau pembina.

Kursus Mahir Dasar dan Kursus Mahir Lanjut adalah kursus pendidikan yang diadakan oleh Kwartir khusus bagi pembina untuk mempersiapkan secara pengetahuan dan keterampilan memahami esensi dari kepanduan dan Gerakan Pramuka serta bagaimana mendampingi adik-adik usia anak-anak dan remaja.

Pendekatan Baden Powell sederhana saja, kegiatan-kegiatan di alam terbuka akan membantu meningkatkan life skill dan menjadikan anak sehat secara fisik dan mental.

Tentu tantangan yang dihadapi di zaman tahun 1900an (awal mula kepanduan) dan kini di era 2024 jauh berbeda. 


Nyata terlihat saat ini anak-anak lebih memilih berkegiatan di rumah, asalkan ada koneksi internet dan gawai kebutuhan bermain mereka sudah tercukupi. 

Masalahnya adalah kemampuan bersosialisasi anak-anak jadi berubah. Ntah ini hanya perasaan saya saja. Nanti perlu dicari penelitian terkait.

Karena saya sering melihat anak-anak jadi lebih kasar ketika bersosialisasi di internet. Tapi saat bertatap muka, mereka jadi pendiam.

Lalu pertanyaan pentingnya, apakah pendidikan kepanduan atau pramuka saat ini masih relevan? Apakah bisa menjawab tantangan zaman?

Menurut saya masih relevan, tetapi perlu perubahan dari kita anggota dewasa (pembina).

  1. Perlu wadah organisasi yang kuat dan mapan. Sebagai sebuah organisasi sukarela, seringkali yang terjadi adalah ketergantungan pada tokoh. Sehingga saat tokoh itu tidak lagi aktif, organisasi langsung melempem.
  2. Program-program kegiatan yang berpusat pada peserta didik. Saat ini khususnya di Indonesia pramuka itu wajib di sekolah-sekolah, sehingga sering terjadi kegiatan pramuka malah dilakukan di dalam ruangan kelas, jadi tidak ada bedanya dengan kegiatan belajar sehari-hari. Seharusnya, kembalikan kepada fitrahnya, anak-anak yang sehat butuh aktivitas fisik di luar ruangan. Buatlah program-program di luar kelas yang menantang untuk peserta didik.
  3. Batasi waktu layar (screen time). Mungkin yang ini sedikit kontroversial, tapi selama berkegiatan, saya pasti meminta adik-adik untuk menyimpan semua gawainya, agar bisa fokus dan hadir sepenuhnya mengikuti kegiatan. Anak-anak itu pasti mencontoh orang dewasa, baik itu orang tuanya atau gurunya, sehingga banyak anak yang belum siap secara fisik dan nalar jadi nempel terus dengan gadgetnya. Kembalikan anak-anak menjadi anak-anak lagi, sentuh rumput, memanjat pohon, bermain di sungai, bergulat, dan berlari-larian. Karena nanti saat dewasa, mereka akan terus berkutat dengan gawai. Berikan kesempatan mereka berkegiatan di alam terbuka, niscaya anak-anak akan jadi orang dewasa yang kuat fisik dan mentalnya.

24 tahun yang sangat menarik, banyak naik dan turunnya. Saya bahkan pernah mengalami hanya satu orang saja peserta didik yang berminat ikut menjadi anggota pramuka. Tapi bagi saya selama ada seorang anak yang ingin berkegiatan pramuka, maka saya wajib memfasilitasinya.

Sekali memandu! Tetap memandu!

Berfoto setelah hiking di Kampung Adat Cireundeu


Sunday, July 9, 2023

Mempersiapkan Diri



"Be Prepared" - "Sedia"

Motto Baden Powell yang selalu saya ingatkan kepada adik-adik saya di gugus depan.

Bulan Juli ini setelah sekian lama pandemi, akhirnya kami bisa mengadakan kembali perkemahan gugus depan. Meskipun hanya diikuti oleh 8 orang putri dan 11 orang putra, namun rasanya sangat meriah. Curug Tilu Leuwi Opat yang terletak di kawasan CIC Parongpong, Kab. Bandung Barat jadi lokasi perkemahan kali ini. Adik-adik sejak jauh hari sudah bertanya kapan kita bisa mengadakan kegiatan berkemah. Karena mereka mengaku hanya pernah berkemah satu malam saja dan menurut adik-adik kurang terasa perkemahannya. Kecuali bagi adik-adik yang pernah ikut kegiatan Jambore.

Diputuskanlah perkemahan kali ini akan dilaksanakan selama tiga hari dua malam. Tepatnya tanggal 3-5 Juli 2023. Berangkat hari Senin pagi, dan pulang hari Rabu siang. Tentunya persiapan harus matang. Dari mulai persiapan fisik, survey lokasi, latihan packing, mendirikan tenda, dan juga memasak. List peralatan pribadi dan regu kami susun bersama, serta tentunya izin dari orang tua dan pihak sekolah.

Sangat menarik melihat adik-adik mempersiapkan segala sesuatunya. Mengelola keuangan seperti transport, sewa alat-alat kemah, serta belanja bahan-bahan makanan mereka lakukan secara mandiri. Benarlah ucapan Baden Powell, “A week of camp life is worth six months of theoretical teaching in the meeting room.” Terlihat bagaimana adik-adik bekerja sama, mempersiapkan perkemahan, kemudian mencari solusi ketika menemui persoalan. Bagi saya pribadi, kegiatan perkemahan adalah perlambang kehidupan kita sehari-hari. Kita akan mengalami kelelahan karena harus membawa beban ransel yang berat dan juga menemui banyak rintangan saat berkegiatan di alam. Namun dengan bergotong royong dan bekerja sama, semua hal tersebut bisa diatasi dengan riang gembira. Saya ingat bagaimana adik-adik tetap saling menyemangati dan saling membantu ketika harus hiking melewati track yang sulit dan cukup jauh menuju Curug Putri. Atau ketika adik-adik saling menjaga ketika ada sekawanan monyet yang menyerbu kavling perkemahan adik-adik. 

Sepulangnya dari perkemahan tentu adik-adik tidak boleh berhenti. Tetaplah belajar, tetaplah meningkatkan keterampilan dan kecakapan adik-adik. Di masa depan kelak, adik-adik akan mengalami kembali rintangan-rintangan dalam kehidupan bermasyarakat. 

Saya selalu belajar hal baru ketika mengikuti perkemahan. Saya belajar, tidak boleh merasa karena sudah pembina maka tidak perlu lagi meningkatkan kecakapan. Justru perkemahan adalah waktu yang pas untuk mengasah kecakapan. Saya pun belajar untuk lebih sabar saat mendampingi adik-adik. Karena seperti menanam pohon, hasilnya tidak akan mungkin kita lihat saat itu juga. Dan belajar untuk selalu mempersiapkan diri, selalu sedia, menjadi tempat bertanya dan berdiskusi bagi adik-adik. 

Saya pernah ditanya, "Mengapa suka kegiatan pramuka? Karena kan pramuka itu melelahkan." Jawabannya adalah karena berkegiatan di alam terbuka bersama adik-adik yang selalu membuat kangen. Dan juga sebagai pembina, pengalaman bisa melantik salah satu adik-adik adalah pengalaman yang selalu dinanti. Seperti saat hari terakhir perkemahan kemarin, akhirnya salah satu anggota pasukan putra berhasil menyelesaikan SKU dan siap dilantik menjadi penggalang ramu. Sambil memegang ujung bendera merah putih di dada, mengucapkan Trisatya, "Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan mengamalkan pancasila, menolong sesama hidup, dan mempersiapkan diri membangun masyarakat, menepati dasa darma." Hormat saya untuk adik-adik yang terus semangat meningkatkan kecakapannya. Semoga bekal pendidikan kepramukaan bisa menjadi salah satu skill yang bermanfaat untuk adik-adik kelak di masa depan. Ingatlah seorang pramuka itu tidak pernah berputus asa dan selalu gembira.