Wednesday, June 13, 2018

Butuh Waktu Berapa Lama Sampai Kamu Menyadarinya?

Apa itu kebenaran? Apakah itu hanya hasil kesepakatan bersama? Kalau begitu bumi ini bisa datar atau bulat, tergantung kita bersepakat dengan pendapat yang mana.

Disebut benar, apakah itu pendapat seorang tokoh? Karena dia berkata demikian, maka pasti benar. Kalau begitu caranya, kebenaran itu ada banyak, tergantung sudut pandang kita.

Apakah disebut benar kalau itu dapat dirasakan oleh panca indra kita? Tapi setiap orang boleh jadi merasakan hal yang berbeda.

Jadi bagaimana kita tahu kebenaran?

Kebenaran itu hanya ada satu. Kebenaran tidak tergantung panca indra atau pendapat kita. Ia memang begitu adanya. Berlaku seperti hukum alam. Berupa suatu fenomena yang terus berulang. Pasti terjadi seperti datangnya siang dan malam.

Sayangnya saya kerap mengabaikan kebenaran.

"Waktu terus berlalu, takkan pernah kembali", adalah salah satu kebenaran yang selalu saya lupakan.

Masih ada nanti, masih ada besok, itu bukanlah kebenaran, melainkan pembenaran.

Saat mencari kebenaran, panca indra dan pikiran saya seringkali menipu. Saya lebih sering mencari 'kebenaran' yang saya sukai saja. Saya takut menghadapi kebenaran.

Seperti saat masuk pertengahan bulan, dan melihat rekening kosong, kebenaran itu selalu sulit diterima. Terutama saat ada keluarga yang sedang membutuhkan.

Seperti saat pagi tiba, bagaimana tubuh ini memaksa untuk tetap tidur, padahal tidak ada apapun yang mengikat saya di tempat tidur.

Seperti saat melihat diri saya sendiri, mengapa takut menghadapi perubahan? Sementara perubahan itu senantiasa pasti terjadi.

Di nurani terdalam, kebenaran itu satu. Ia tidak disusupi nafsu, maupun pendapat kita. Lewat kebenaran itu kita dapat memimpin dan mengambil keputusan setiap harinya.

Cara yang paling mudah menemukan kebenaran adalah dengan melakukan kesalahan. 

Hari ini benar adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Benar banyak hari sudah saya sia-siakan. Benar bahwa saya sering lupa bersyukur dengan semua yang saya miliki. Mestinya kan, setelah melakukan kesalahan ya sudah tidak mengulanginya lagi. 

Tapi memang begitulah adanya, berjalan di atas kebenaran selalu penuh tantangan. Semoga jalan ini pun benar jalannya. Itulah sebabnya kita selalu berdoa, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

Selamat jalan bulan Ramadhan, semoga dapat berjumpa lagi tahun depan.

Saturday, June 2, 2018

Ku tak bisa jauh... Jauh darimu...

22:26

Sudah lewat jam sepuluh malam. Saya masih berkutat dengan pekerjaan. Betapa beratnya pekerjaan apabila ternyata itu bukan panggilan hati dan passion yang tepat. Tapi apakah passion itu datang duluan? Apakah mungkin kita menemukan passion dulu baru memilih pekerjaan? Bukankah kesempatan dan peluang setiap orang itu berbeda-beda?

Jadi yang paling tepat tampaknya kita mencoba dulu berbagai hal di dunia ini, lalu mencari kira-kira pekerjaan apa yang dapat menjadi sumber penghidupan dan kita bisa berkontribusi banyak di situ. Pilihan kita yang pada akhirnya menentukan, tapi tahu darimana kalau pilihan kita ini sudah benar? Ya memang tidak ada yang tahu. Sama halnya seperti nanti setelah mati, apakah kita akan masuk surga atau neraka? Ya tidak ada yang tahu.

Kalau begitu hidup ini untuk apa? Apakah untuk coba-coba? Ya bisa jadi demikian. Coba aja dulu, nanti baru lihat hasilnya seperti apa. Hehehe. Tapi kan mestinya ada sistem supaya kita bisa setidaknya mengurangi resiko kegagalan. Memang betul, tapi sistem pun awalnya pasti coba-coba. Dan yang namanya sistem kadang cocok-cocokan dengan penggunanya.

Malam ini, saya percaya Tuhan ingin kita untuk mencoba dulu saja. Mencoba untuk berani, untuk tidak memikirkan bagaimana nanti. Mencoba untuk memulai, karena langkah pertama itu selalu yang paling sulit. Mencoba untuk mencoba lagi, tentunya dengan strategi yang berbeda, karena setiap masalah itu pasti ada solusinya. Yuk mari....

Friday, May 18, 2018

Bertemu Lagi dengan Bulan Ramadhan

Setiap tahun, bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk saya melakukan refleksi diri. Melihat kembali sudah sejauh mana saya berubah, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan dan juga saya berikan selama satu tahun terakhir.

Sejak Ramadhan tahun lalu, saya ingin bisa melunasi semua hutang-hutang saya. Apakah bisa? Yang satu ini tampaknya selalu gagal. Sudah bertahun-tahun goal yang satu ini bertengger di daftar prioritas tapi tidak pernah berhasil dicapai.  Penyebabnya, karena memang pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan. Perlu sumber pemasukan lain supaya masalah satu ini teratasi. Setelah bertahun-tahun, belum ada satu pun solusi yang berhasil. Tapi ada banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari sini.

Pertama: Semua itu butuh modal. Apa pun usaha yang akan dirintis, semua butuh modal, baik itu uang, tenaga, waktu, pengetahuan, koneksi, pengalaman, dll. Tanpa modal tidak akan jadi usaha.

Kedua: Mulai saja. Langkah pertama selalu paling sulit, memulai itu tidak pernah mudah. Takut ini lah, takut itu lah, atau selalu merasa tidak siap. Setelah mulai, akan banyak peluang muncul, tapi itu berarti kesulitan akan terus bertambah. Kalau gampang mah, semua saja bikin usaha sendiri. Saat posisi di bawah, akan ada hal yang bikin kita terus di bawah dalam waktu lama, naik sedikit, terus turun lagi. 

Ketiga: Tidak boleh menyerah, walau gagal terus, ya tetep harus usaha terus. Itu satu-satunya cara. 

Keempat: Komitmen dan konsistensi. Ini menurut saya hal yang tersulit. Kita bisa bermimpi apa saja, tapi pada akhirnya tanpa komitmen dan konsistensi semua akan sia-sia.

Kelima: Saat semua usaha sudah dilakukan, maka berdoalah. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Talk is easy, right? 

Setiap pagi saya bertanya, apa yang tetap membuat saya tetap bangun dari tidur?
Apakah bisa saya jadi lebih baik dari hari kemarin?
Apakah saya bisa menepati janji-janji saya? Rencana-rencana saya?

Tidak ada yang tahu kan? Apakah saya akan berhasil hari ini atau tidak? 

Jadi, mari kita selesaikan satu per satu. #MarhabanYaRamadhan

Sunday, March 11, 2018

Inkonsistensi

“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.” -Albert Einstein

Berapa kali kamu mengalami kegagalan sepanjang hidupmu?
Kapan kamu terakhir kali gagal?
Apa akibat dari kegagalan tersebut?
Bagaimana caramu memperbaikinya?

Mengulangi kesalahan dan mengalami kegagalan adalah pengalaman yang konyol. Karena buat saya itu seperti dosa harian. Terus dilakukan, walau tahu itu salah. Masuk lagi ke dalam lubang yang sama, keluar, lalu masuk lagi.

Contoh sederhana: pasang alarm jam 4, bangun, matikan alarm, terus tidur lagi, bangun jam 5 atau setengah 6, beberes, berangkat kerja, datang mepet atau terlambat, kerja, pulang, istirahat, tidur malam, terus berulang lagi. Satu dua kali bisa betul bangun jam 4 terus tidak tidur lagi, terus jadi tepat waktu, tapi besoknya berulang lagi kesalahan yang sama.

Mengapa selalu melakukan kesalahan yang sama?

Mengapa tidak berbuat sesuatu yang berbeda?

Dan menariknya itu berlaku di hampir semua lini. Seperti renacana mau olahraga, rencana mau nabung, rencana mau sekolah lagi, dan rencana-rencana lainnya. Jalan sebentar tapi terus kembali lagi ke rutin lama. Kalah oleh malas, kalah oleh kesibukan, akhirnya gagal lagi...

“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda.” -Albert Einstein

Contoh yang lain: mencoba rutin menulis. Sulitnya bukan main, ada saja kendalanya. Luar biasa teman-teman yang selalu bisa mengalokasikan waktu untuk bisa menulis. Bahkan nulis status pun buat saya itu sulit. Kudu ada kejadian dulu atau bener-bener gak ada kerjaan, barulah bisa nulis.

Bagaimana cara orang-orang bisa konsisten menjaga rutin mereka?

Bagaimana cara orang-orang bisa rutin olahraga, rutin membaca, rutin menulis, rutin menabung, rutin makan sehat, rutin bangun pagi, rutin ngobrol dengan keluarga, rutin belajar hal-hal baru?

Kok susah untuk bisa konsisten, minimal satu hal saja.

Coba 21 hari, coba dari hal yang kecil.

Rasanya sudah coba, tapi tetep we kalau udah lewat 21 hari, balik lagi ke kebiasaan lama. Kenapa ya?

Satu-satunya yang selalu konsisten itu, kayaknya buka media sosial, dan browsing internet. Hahahaha

Udah ikut grup blogger di Smipa pun kurang memotivasi diri ini untuk bisa jadi lebih produktif. Padahal kan keuntungannya banyak. Minimal bisa sharing pengalaman, dan mengasah tulisan. Kan gak mungkin bisa langsung jadi ahli menulis.

Lebih jauh lagi, bagaimana bisa menularkan konsistensi kepada teman-teman di kelas, kalau saya sendiri pun masih kesulitan?

Pertanyaan menarik. Percuma rasanya, senang melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut.

Saya harap penyakit ini cepat sembuh.

Monday, December 25, 2017

T A N A H

15 Desember 2017
Pagi hari
Di ruangan kelas 9
Sedang mengerjakan rapot
Tiba-tiba ada wa masuk di grup keluarga,

Teh santi happy bday, semoga panjang umur, sehat selalu, diberikan rezeki berlimpah,happy selalu


Waduh, saya lupa hari ini istri ulang tahun... Keasikan bikin rapot... Hahaha... padahal mah memang gak pernah inget. Maaf ya Mbu...

Desember adalah hari lahir dua perempuan hebat, ibuku dan istriku.

Di penghujung tahun 2017, saya masih belum bisa berbuat banyak untuk keduanya. Alasannya klasik, tidak ada uang. Membuatku jadi bertanya-tanya, memang kenapa kalau tidak ada uang?

Coba kita lihat, saat ini semua hal pokok harus diganti uang, dan semua akan menuju ke sana, tinggal menunggu udara yang kita hirup jadi berbayar saja.

Kecuali kita berbuat sesuatu.

Setiap hari kita membeli kebutuhan pokok, seperti makan, minum, listrik, air bersih, gas, transportasi, menjaga kesehatan, pendidikan, dan bersosialisasi. Belum lagi kalau satu hari anggota keluarga ada yang tertimpa musibah seperti sakit atau yang lain. Plus tentunya biaya untuk rekreasi.

Kenapa sepertinya hidup teh makin mahal? Mengapa teknologi makin maju teh malah bikin kesenjangan tambah parah?

Akibat populasi makin padat dan globalisasi?

Sebagai generasi millenial, terlihat kesejahteraan hidup makin sulit didapat. Kalau sejahtera itu diukur dengan harta, maka generasi millenial berada dalam kesulitan. Makin banyak yang tinggal bareng ortu, makin banyak yang hasil usahanya gak bisa beli aset, makin banyak yang jadi pengangguran karena perusahaan bangkrut.

Jadi mending jangan ukur sejahtera dengan harta, walaupun bakal sulit, karena media-media sosial, mempertontonkan gaya hidup yang glamor. Banyak duit itu sama dengan sejahtera.

Tapi tidak bisa dipungkiri, semua itu saling terkait, jika negara ingin ambil bagian maka ada persoalan utama untuk diatasi, yaitu tanah.

Saat ini, sangat tidak masuk akal, kerja di pusat kota, tapi tinggal di kabupaten. Udah mah jauh, macet pula. Hidup/kerja itu habis di jalan. Tata wilayah kota harus diperbaiki. Bisa dibilang, yang punya kebijakan saat ini kurang ngerti peliknya masalah tanah ini. Karena mereka mah punya. Dan buat mereka harga tanah makin mahal ya makin bagus. Sementara buat rakyat mah di pinggir we, jauh-jauh. Hehehe.

Gimana bisa punya waktu berkualitas bersama keluarga, yang ada capek. Sampai rumah langsung menggoler.

Bayangkan jika tata wilayahnya diperbaiki. Tiap wilayah itu ada perumahannya, perkantoran, pusat perdagangan, serta tempat rekreasi. Tentunya kota akan lebih sehat. Moal pabeulit siga ayeuna.

Tapi kumaha carana? Selama mindsetnya prinsip ekonomi mah ya sudahlah...

Betapa sedihnya kelak generasi anak cucu kita, yang bisa punya rumah tengah kota hanya segelintir orang saja. Itu pun sudah dalam bentuk apartemen, bukan lagi rumah hak milik.

Mending ka desa we lah, membangun yang baru jauh dari kota.

Tapi terus teh desana ancur kusabab orang kota nu ka desa hoyong aya mall-mall jeung pabrik-pabrik, plus jalan tol, sareng jalan layang, terus bere we taman. Hahahaha

Jadi lieur...

Catatan: saat ini Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia menghasilkan kerugian luar biasa akibat kemacetan setiap harinya. Solusinya bukanlah penataan ulang wilayahnya, tetapi pembangunan jalan tol dan jalan layang. Perumahan makin mahal dan makin jauh dari pusat kota. Bayangkan setiap hari seorang anak, pulang pergi rumah - sekolah perlu 2-3 jam. Begitu pula para orangtua yang bekerja, perlu waktu yang sama untuk pulang pergi rumah - kantor. Untuk mengatasinya orang-orang beli kendaraan pribadi atau pakai taksi online, yang mana mengakibatkan jalanan malah makin padat.

Saya ingat dulu, waktu SD mau ke sekolah itu tinggal pakai becak atau jalan kaki, tidak sampai 30 menit sudah sampai sekolah.

Tapi itu kan dulu... Dan itu baru persoalan tanah, belum masalah air, energi, pangan, kesehatan, kesenjangan, dst... Waw banyak warisannya... Maafkan generasi bapakmu ini nak.

Semoga tahun 2018-2019, saya dan keluarga bisa mulai beli tanah, bangun rumah, yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Wednesday, November 1, 2017

20 Tahun

20 tahun lalu saya lulus dari SMPN 13. Seperti halnya sewaktu SD ke SMP saya beruntung dapat nem yang cukup tinggi. Begitu juga sewaktu mau masuk SMA. Nem saya cukup untuk masuk SMA 5, Alhamdulillah.

Seingat saya, saya tidak pernah mikirin nanti mau masuk jurusan apa. Sekolah mah sekolah we. Baru milih teh pas kelas tiga SMA lah. Waktu SMP mah boro-boro mikirin jurusan, milih IPA/IPS aja nggak.

Di sisi lain, semua materi pelajaran yang di dapat itu gak ada yang benar-benar saya pahami kegunaannya untuk apa. Mungkin memang benar seperti Kak Robert bilang, yang penting itu strukturnya. Kita jadi belajar efektif, efisien, bisa ngatur prioritas, ngelola waktu, dan bertanggung jawab. Memang pelajaran itu hanya cara/metode. Cara agar kita memahami diri kita sendiri dan lingkungan kita dengan lebih baik.

Saya juga bukan kakak yang baik dalam hal memberikan motivasi. Kalau sedang hiking, terus adik-adik bertanya, "Kak, masih jauh?" Saya pasti jawab apa adanya. "Iya, masih jauh. Jauh banget! Hehehe."

Perjuangannya memang berat. Mun gampang mah gak usah ada sekolah. Gak usah ada pelajaran-pelajaran yang bikin ngantuk, atau yang gak kita sukai. Tapi pada akhirnya, yang sulit itu malah yang bikin kita tambah pengalaman. Lalu yang bikin ngantuk itu yang ternyata kita butuhkan.

Sewaktu kuliah, tiga kali saya mengulang kuliah kalkulus. Sudah ngulang tiga kali pun cuma dapat nilai C. Terus apa saya harus menyerah?

Mengeluh itu bukan solusi. Jika ingin hasil yang berbeda, cara yang dilakukan juga harus berbeda. Ingin sukses? Kalau caranya hanya mengeluh apa bisa sukses?

Seperti kisah hiking tadi. Kalau sudah sampai puncak memang ada apa? Biasanya malah gak ada apa-apa. Paling cuma pemandangan doang. Oleh karena yang menarik itu selalu perjalanannya. Tinggal kita pilih, mau sampai ke puncak dengan terus mengeluh atau menikmati setiap langkahnya?

=========
Jati Gede


Catatan pinggir:

Lewat sains dan matematika saya menemukan Tuhan. Kita bisa menemukan segala bentuk keindahan alam serta segala keteraturan dari mulai tubuh kita hingga alam semesta. Tapi semuanya rumit, seperti tidak berpola. Untungnya manusia diberikan otak yang dapat menemukan pola-pola dalam ketidakteraturan tersebut.

Berpusing-pusing sedikit ternyata ada faedahnya.

Seperti barisan fibonacci: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, ...

Golden ratio muncul dari pola ini. Ditemukan oleh Leonardo Fibonacci pada tahun 1200an, setiap pasangan berurutan dari barisan tersebut saat dibagi jadi makin dekat dengan nilai golden ratio / phi 1,618...

Contoh: 5/3 = 1,666...
34/21 = 1.619048
Dst.
Semakin besar angkanya, maka nilai baginya makin mendekati phi.

Golden ratio ini ditemukan di banyak tempat. Perbandingan piramid, tubuh manusia, bentuk kerang, sampai bentuk galaksi.

Saya yakin ada kekuatan yang maha dahsyat yang mampu menciptakan keteraturan tersebut.

Saat mempelajari ilmu spektrum cahaya, kita pun menemukan keajaiban yang lain, mungkinkah ada kehidupan di tempat lain di alam semesta ini?

Semoga hasrat untuk bertanya, untuk menemukan berbagai jawaban tidak akan pernah pudar. Tidak kalah oleh malas dan keluhan. Tidak kalah oleh rasa takut dan minder.

Seperti kepingan puzzle. Saat ini mungkin kita belum tahu manfaatnya apa, tapi kelak yakinlah keping itu akan menemukan tempatnya.

Sumber: https://www.livescience.com/37704-phi-golden-ratio.html

Saturday, September 16, 2017

Superman

Tiga tahun ini saya diberikan kesempatan untuk menjadi fasilitator di SMP Semi Palar Bandung. Bagi saya bertemu anak-anak usia 13-15 tahun sudah bukan barang baru, karena kebetulan sejak tahun 2003 saya menjadi Pembina Penggalang di Gugusdepan KB 13007. Jenjang SMP ini menarik karena masa pubertas mulai terjadi di usia ini, bisa dibilang sangat nanggung, bahkan banyak rekan bilang mending SD atau SMA daripada mengajar SMP. Memang cukup sulit untuk bisa memahami persoalan-persoalan anak-anak usia remaja saat ini. Dengan munculnya berbagai teknologi gawai berkat internet, ternyata malah menjadikan kehidupan remaja semakin rumit. Seperti misal mudahnya akses konten kekerasan dan pornografi, lalu penggunaan gawai yang berlebihan sampai kecanduan.

Pada usia tersebut, mereka sedang bertumbuh secara fisik dan pemikiran, mereka aktif, kritis, pemberontak, dan praktis. Namun mereka juga cenderung pemalas, "jika bisa tidak dilakukan mengapa harus dikerjakan?" Pada banyak kesempatan mereka akan mencoba mengetes Kakak/Guru yang mereka temui, apakah dapat mereka percayai, atau malah harus mereka kerjai. Dalam keseharian, mereka datang ke sekolah untuk bisa bertemu dengan teman-teman daripada untuk belajar, mereka datang untuk bisa eksis, cerita update berbagai tren terbaru, ataupun hal-hal yang mereka anggap lucu.

Saya pun dulu pernah melewati masa-masa itu, walaupun tanpa adanya gawai dan internet. Masa-masa yang memerlukan tingkat kedirian yang cukup baik agar tidak terseret oleh dinamika pertemanan. Jika tidak mengikuti perkembangan yang sedang hits maka akan dianggap aneh, tidak keren, atau kurang gaul. Benih-benih kerusakan, seperti geng motor, seks bebas, rokok, dan narkoba hadir di usia ini.

Tapi masa yang penuh tantangan tersebut tetap harus dilalui. Jika dapat melewati fase tersebut, buahnya akan terasa manis saat nanti menginjak masa perkuliahan. Kebiasaan serta karakter yang kuat selalu menjadi kunci bagi kesuksesan.

Bagaimana Semi Palar mencoba menjawab tantangan tersebut?

Dengan pendidikan berbasiskan proyek-masalah-tempat (Project-Problem-Place Based Learning), SMP Semi Palar mengadaptasi kurikulum nasional ke dalam bentuk pendidikan tematik yang mengambil lokasi geografis untuk olahan setiap jenjangnya. Kelas 7 bertemakan Kota Bandung, kelas 8 bertemakan Pulau Jawa, dan kelas 9 bertemakan Wawasan Nusantara.

Tiga tahun saya dipercaya menjadi fasilitator di kelas 8 SMP Semi Palar, artinya tiga kali saya bersama rekan-rekan membimbing anak-anak untuk melaksanakan satu kegiatan yaitu Perjalanan Besar ke kota-kota di Jawa. Bentuknya tentu saja berbeda dengan karyawisata pada umumnya, anak-anak sedari awal diminta untuk menabung, lalu mempersiapkan segalanya sendiri dan berkelompok. Mereka tidak berangkat menggunakan bus/mobil sewaan dan tidur di hotel, tapi ala backpacker, mereka berangkat menggunakan kereta dan angkutan umum, serta berjalan kaki. Tidur dan makan pun seadanya, disesuaikan dengan budget yang sudah disiapkan lewat menabung, berjualan, atau magang dengan orang tua.

Sisi-sisi karakter seperti kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, komunikasi, kemampuan riset, serta kreativitas terpadu semuanya masuk dalam proyek Perjalanan Besar. Materi-materi pembelajaran pun turut masuk ke dalam proyek tersebut, pelajaran-pelajaran Matematika, IPA, IPS, PKN, Bahasa, Agama, Seni Budaya, dirangkaikan untuk dapat jadi bagian dari Perjalanan Besar, disesuaikan dengan olahan kota-kota yang akan dikunjungi.

Sepulangnya anak-anak diminta untuk membuat buku jurnal Perjalanan Besar. Sebuah proyek yang menggenapkan semua pembelajaran yang telah di dapat, dengan cara membagikan pengalaman mereka lewat sebuah buku karya bersama.
Tentunya Kakak/Guru jadi perlu segala bisa, dari mulai memadukan materi-materi pelajaran ke dalam proyek, memimpin perjalanan, mengatasi keadaan gawat darurat, mencari narasumber yang tepat untuk anak-anak, sampai memfasilitasi proses pembuatan buku hingga peluncuran bukunya.

Tujuan metode tersebut adalah agar anak bisa memahami bagaimana penerapan materi-materi pelajaran yang sudah ia dapatkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada saat masuk kehidupan bermasyarakat kelak, mereka harus bisa berkolaborasi dengan berbagai disiplin ilmu, memiliki kemampuan komunikasi yang mumpuni dengan siapa pun, mampu berpikir kritis, serta dapat berpikir kreatif untuk bisa memecahkan berbagai persoalan yang semakin kompleks.

Hasilnya jadi menarik saat akhir semester tiba. Seperti saat ujian, di Semi Palar tidak ada soal pilihan ganda, semua soal berbentuk esai. Anak-anak diharapkan dapat menemukan hubungan sebab-akibat serta mampu menjelaskan dan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah di dapat. Lalu pembuatan rapotnya pun berupa detail penceritaan proses pembelajaran anak di semester tersebut, bukan berupa nilai-nilai angka/huruf saja.

Tidaklah berlebihan jika Kakak/Guru di SMP Semi Palar itu seperti superman/superwoman. Harus siap kapan saja, dan harus serba bisa.
Pengajarnya tidak bisa fresh graduate, perlu pengalaman bekerja terlebih dahulu, atau perlu kaya dengan pengalaman berorganisasi. Harus mampu improvisasi, berpikir cepat, dan kaya dengan referensi. Mereka juga harus memiliki kedirian yang kuat agar bisa selalu objektif, tidak mudah terbawa emosi saat menghadapi anak-anak di kelas. Dan yang tidak kalah penting, mampu mengaitkan berbagai pengetahuan dan pengalaman serta materi-materi kurikulum nasional ke dalam pembelajaran proyek di kelas.

Adakah Kakak/Guru ideal semacam itu?

Yang pasti sulit sekali, jika tidak mau dibilang tidak ada. Lagipula memang apa salahnya dengan pendidikan sekolah biasa? Cukup banyak salahnya menurut saya, karena sekolah formal pada umumnya hanya mengejar nilai akhir saja, semua sudah ada standarisasinya, bukan mengejar pemahaman tapi yang penting hapal dan mampu ujian, bukan belajar berkolaborasi tetapi berkompetisi, bukan memupuk kreativitas tetapi memasungnya, dengan terus memaksa anak duduk di kelas mendengarkan guru dan mengerjakan tumpukan tugas dan soal-soal. Lalu yang paling sulit adalah besarnya jumlah anak dalam satu kelas sehingga tidak mungkin bisa dilakukan pengamatan dan terperhatikan satu per satu.

Jadi guru teh kudu kumaha?

Saya juga tidak tahu. Bahkan apakah saya layak disebut sebagai guru? Masih bingung menjawabnya.

Berkaca dari konsep Ki Hajar Dewantara mengenai guru, saya kira tepatlah jika profesi guru itu harus berupa pengabdian. Alangkah sulitnya mendidik anak-anak apabila guru masih memikirkan urusan dapur. Tapi sulit juga mencari orang dewasa yang sudah mapan dan kaya pengalaman mau menjadi seorang guru. Jadi tidak salah jika seorang guru yang baik itu ibarat Superman.

Untuk semua guru-guru saya, terimakasih atas semua dedikasimu.

Semoga saya bisa melanjutkan pengajaran mereka.