Saturday, September 1, 2018

Ruh Itu Tidak Mati

Jumat, 31 Agustus 2018, 21:00

Ada telepon via wa masuk, memberi kabar nenek saya dari pihak ibu meninggal dunia sekitar pukul setengah 8 malam. Nenek memang sudah sepuh, dan sakit-sakitan, namun tetap saja malam itu tidak ada tanda-tanda beliau sakit. Malam itu nenek minta dibelikan roti oleh sepupu saya. Namun saat kembali nenek sudah tiada.

Ke-riweuh-an langsung muncul. Gimana caranya ngasih tahu ibu? Karena malam itu juga bapak lagi tidak ada di rumah, karena kebetulan sedang ada di rumah ibu tiri saya.

"Bapak gak akan ke Metro, besok pagi langsung ke Cimahi pake angkot." Begitu kabar dari bapak. Jadi weh, tugas saya yang harus ngasih tahu ibu.

Setelah berdiskusi dengan adik-adik, sepakat dikasihtahunya besok pagi aja, karena mun malem langsung dikasihtahu, kemungkinan ibu kambuh sakitnya dan jadi double riweuhnya.

Teh Santi mah bilangnya, udah aja langsung malam ini ke Cimahi bareng ibu. Ibu pasti ingin lihat nenek untuk terakhir kali. Sementara buat saya pribadi sebetulnya kalau udah meninggal kan udah gak bisa diajak ngobrol yah? Jadi untuk apa lihat doang? Bukannya malah bikin tambah sedih yah?

Ke-riweuh-an lainnya, besok saya harus mendampingi anak-anak pramuka SMPN 13 hiking ke Dago Pakar. Dibatalkan aja gitu?

Ah sarekeun we lah...

Sabtu, 1 September 2018, 03:00

Alarm berbunyi. Teh Santi ngebangunin untuk siap-siap ke Metro. Semalem mimpi malah mimpi yg aneh-aneh, mungkin karena hari ini bangunnya kepagian.

Setelah beberes, dan salat subuh, saya berangkat pake gojek ke rumah ibu, lalu mengabari lewat grup line pramuka, saya akan datang telat untuk kegiatan hiking hari ini karena semalam nenek meninggal dunia.

Sampai di metro, ibu terbangun karena saya datang. Ibu lagi tiduran di kasur di ruang tengah. Saya duduk di sebelahnya, langsung bilang, "Bu, nenek ngantunkeun, tadi malam jam setengah 8. Sekarang semuanya, bapak dan adik-adik lagi otw Cimahi. Hayu Bu berangkat" Ibu kaget sebentar, terus langsung bangun. Saya tawarin untuk mandi dulu, gak usah katanya. Jadi ibu hanya ganti baju, dan pakai kerudung.

Bersama adik saya yang bungsu, berangkatlah kami ke Cimahi pakai grab.

Sampai di Cimahi, bapak sudah ada di sana. Nenek sudah dimandikan dan disalatkan. Ibu hanya lihat sebentar terus langsung keluar lagi dan mau pulang. Tapi oleh paman ditahan supaya mau tinggal sampai pemakaman beres.

07:00

Adik-adik saya datang. Saya lalu pamit, untuk berangkat ke 13 terus ke rumah. Rencana awalnya, saya ke 13 terus minta ada yg gantikan nemenin anak-anak hiking, terus ke rumah, jemput Teh Santi dan anak-anak, terus balik lagi ke Cimahi. Biar keburu lihat nenek dimakamkan.

Tapi di 13 ternyata gak ada yang lain yang bisa menggantikan saya, cuma ada saya sendiri. Anak-anak ber-18 orang sudah siap untuk berangkat. Ya sudah, berarti ganti rencana. Nemenin anak-anak hiking dulu, siang pulang ke rumah, sore ke Cimahi lagi.

10:00

Keluarga pada nanya, saya ada di mana. Saya bilang, "Lagi nemenin anak-anak pramuka di Dago Pakar." Sigana teh, di benak keluarga, kumaha si aa teh batur keur riweuh ieu kalahka ulin.

12:00

Anak-anak senang dan cape, jalan dari Terminal Dago - Curug Dago - PLTA Bengkok - Gua Jepang - Gua Belanda. Teriak-teriak dalam gua, dan ketemu banyak monyet di sekitar gua. Terus karena sayanya tiis, tanpa ekspresi, kejadian nenek meninggal, tidak berpengaruh.

14:30

Sampai di rumah. Akhirnya bisa makan, dari pagi belum makan, dan terus siap-siap ke Cimahi.

16:00

Stasiun Kiaracondong, cukup penuh. Biar murah, ke Cimahinya pakai kereta. Pas kereta datang, hujan turun.

17:30

Alhamdulillah akhirnya sampai di Cimahi lagi. Teh Santi bantu beberes bentar, sambil jagain dua bocah, terus selepas maghrib ikut acara tahlilan.

Minggu, 2 September 2018, 2:20

Masih di Cimahi, karena kecapean, semalam jadinya nginep di rumah nenek. Sekarang saya bangun, karena tengah malam Shihab ngompol. Jadi malah gak bisa tidur lagi.

Disebut meninggal, itu karena dua hal: jantung berhenti berdetak atau otak berhenti berfungsi. Tapi ruh itu tidak mati. Ruhnya tetap hidup. Walau mungkin bagi yang ateis mah, habis mati ya sudah, gak ada apa-apa lagi.

Seperti apa ya kehidupan setelah kematian?

Jawabannya: sama seperti hidup, pada akhirnya semua akan mencari titik kesetimbangan. Alam semesta selalu berlaku demikian. Seperti organ tubuh kita menyeimbangkan diri dengan homeostasis, lalu hukum konservasi/kekekalan energi, pada akhirnya kematian pun sama, semua seimbang dengan tubuh kita yang kembali ke tanah, dan ruh kita yang kembali pulang kepada Tuhan Sang Maha Pencipta Keseimbangan.

Ingatan saya tentang nenek hanya selewat-selewat. Saya ingat sewaktu kecil sering jalan-jalan dengan nenek di Cimahi, beliau seorang guru, dan sangat hobi bersih-bersih.

Sewaktu saya dewasa, hubungan dengan nenek seringkali dalam waktu seperti saat lebaran atau saat nenek ngasih tahu ibu saya datang ke Cimahi sendirian. Pernah satu kejadian, saya datang malam-malam ke Cimahi untuk jemput ibu. Terus karena sudah tengah malam, akhirnya nginep di sana. Subuh datang, nenek membangunkan saya, "Aa, ibu mana?" Saya langsung bangun, mencari, ternyata ibu sudah pergi lagi, ntah kemana sewaktu saya tidur.

Selamat jalan nenek, hampura ieu incu nu sok bedegong, hampura pun biang sok ngaririweuh nenek, mudah-mudahan amal ibadah nenek ditampi ku Allah SWT. Aamiin.

Wednesday, June 13, 2018

Butuh Waktu Berapa Lama Sampai Kamu Menyadarinya?

Apa itu kebenaran? Apakah itu hanya hasil kesepakatan bersama? Kalau begitu bumi ini bisa datar atau bulat, tergantung kita bersepakat dengan pendapat yang mana.

Disebut benar, apakah itu pendapat seorang tokoh? Karena dia berkata demikian, maka pasti benar. Kalau begitu caranya, kebenaran itu ada banyak, tergantung sudut pandang kita.

Apakah disebut benar kalau itu dapat dirasakan oleh panca indra kita? Tapi setiap orang boleh jadi merasakan hal yang berbeda.

Jadi bagaimana kita tahu kebenaran?

Kebenaran itu hanya ada satu. Kebenaran tidak tergantung panca indra atau pendapat kita. Ia memang begitu adanya. Berlaku seperti hukum alam. Berupa suatu fenomena yang terus berulang. Pasti terjadi seperti datangnya siang dan malam.

Sayangnya saya kerap mengabaikan kebenaran.

"Waktu terus berlalu, takkan pernah kembali", adalah salah satu kebenaran yang selalu saya lupakan.

Masih ada nanti, masih ada besok, itu bukanlah kebenaran, melainkan pembenaran.

Saat mencari kebenaran, panca indra dan pikiran saya seringkali menipu. Saya lebih sering mencari 'kebenaran' yang saya sukai saja. Saya takut menghadapi kebenaran.

Seperti saat masuk pertengahan bulan, dan melihat rekening kosong, kebenaran itu selalu sulit diterima. Terutama saat ada keluarga yang sedang membutuhkan.

Seperti saat pagi tiba, bagaimana tubuh ini memaksa untuk tetap tidur, padahal tidak ada apapun yang mengikat saya di tempat tidur.

Seperti saat melihat diri saya sendiri, mengapa takut menghadapi perubahan? Sementara perubahan itu senantiasa pasti terjadi.

Di nurani terdalam, kebenaran itu satu. Ia tidak disusupi nafsu, maupun pendapat kita. Lewat kebenaran itu kita dapat memimpin dan mengambil keputusan setiap harinya.

Cara yang paling mudah menemukan kebenaran adalah dengan melakukan kesalahan. 

Hari ini benar adalah hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Benar banyak hari sudah saya sia-siakan. Benar bahwa saya sering lupa bersyukur dengan semua yang saya miliki. Mestinya kan, setelah melakukan kesalahan ya sudah tidak mengulanginya lagi. 

Tapi memang begitulah adanya, berjalan di atas kebenaran selalu penuh tantangan. Semoga jalan ini pun benar jalannya. Itulah sebabnya kita selalu berdoa, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. 

Selamat jalan bulan Ramadhan, semoga dapat berjumpa lagi tahun depan.

Saturday, June 2, 2018

Ku tak bisa jauh... Jauh darimu...

22:26

Sudah lewat jam sepuluh malam. Saya masih berkutat dengan pekerjaan. Betapa beratnya pekerjaan apabila ternyata itu bukan panggilan hati dan passion yang tepat. Tapi apakah passion itu datang duluan? Apakah mungkin kita menemukan passion dulu baru memilih pekerjaan? Bukankah kesempatan dan peluang setiap orang itu berbeda-beda?

Jadi yang paling tepat tampaknya kita mencoba dulu berbagai hal di dunia ini, lalu mencari kira-kira pekerjaan apa yang dapat menjadi sumber penghidupan dan kita bisa berkontribusi banyak di situ. Pilihan kita yang pada akhirnya menentukan, tapi tahu darimana kalau pilihan kita ini sudah benar? Ya memang tidak ada yang tahu. Sama halnya seperti nanti setelah mati, apakah kita akan masuk surga atau neraka? Ya tidak ada yang tahu.

Kalau begitu hidup ini untuk apa? Apakah untuk coba-coba? Ya bisa jadi demikian. Coba aja dulu, nanti baru lihat hasilnya seperti apa. Hehehe. Tapi kan mestinya ada sistem supaya kita bisa setidaknya mengurangi resiko kegagalan. Memang betul, tapi sistem pun awalnya pasti coba-coba. Dan yang namanya sistem kadang cocok-cocokan dengan penggunanya.

Malam ini, saya percaya Tuhan ingin kita untuk mencoba dulu saja. Mencoba untuk berani, untuk tidak memikirkan bagaimana nanti. Mencoba untuk memulai, karena langkah pertama itu selalu yang paling sulit. Mencoba untuk mencoba lagi, tentunya dengan strategi yang berbeda, karena setiap masalah itu pasti ada solusinya. Yuk mari....

Friday, May 18, 2018

Bertemu Lagi dengan Bulan Ramadhan

Setiap tahun, bulan ini adalah bulan yang paling tepat untuk saya melakukan refleksi diri. Melihat kembali sudah sejauh mana saya berubah, apa saja hal-hal yang sudah saya lakukan dan juga saya berikan selama satu tahun terakhir.

Sejak Ramadhan tahun lalu, saya ingin bisa melunasi semua hutang-hutang saya. Apakah bisa? Yang satu ini tampaknya selalu gagal. Sudah bertahun-tahun goal yang satu ini bertengger di daftar prioritas tapi tidak pernah berhasil dicapai.  Penyebabnya, karena memang pengeluaran selalu lebih besar daripada pemasukan. Perlu sumber pemasukan lain supaya masalah satu ini teratasi. Setelah bertahun-tahun, belum ada satu pun solusi yang berhasil. Tapi ada banyak pembelajaran yang bisa saya ambil dari sini.

Pertama: Semua itu butuh modal. Apa pun usaha yang akan dirintis, semua butuh modal, baik itu uang, tenaga, waktu, pengetahuan, koneksi, pengalaman, dll. Tanpa modal tidak akan jadi usaha.

Kedua: Mulai saja. Langkah pertama selalu paling sulit, memulai itu tidak pernah mudah. Takut ini lah, takut itu lah, atau selalu merasa tidak siap. Setelah mulai, akan banyak peluang muncul, tapi itu berarti kesulitan akan terus bertambah. Kalau gampang mah, semua saja bikin usaha sendiri. Saat posisi di bawah, akan ada hal yang bikin kita terus di bawah dalam waktu lama, naik sedikit, terus turun lagi. 

Ketiga: Tidak boleh menyerah, walau gagal terus, ya tetep harus usaha terus. Itu satu-satunya cara. 

Keempat: Komitmen dan konsistensi. Ini menurut saya hal yang tersulit. Kita bisa bermimpi apa saja, tapi pada akhirnya tanpa komitmen dan konsistensi semua akan sia-sia.

Kelima: Saat semua usaha sudah dilakukan, maka berdoalah. Karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Talk is easy, right? 

Setiap pagi saya bertanya, apa yang tetap membuat saya tetap bangun dari tidur?
Apakah bisa saya jadi lebih baik dari hari kemarin?
Apakah saya bisa menepati janji-janji saya? Rencana-rencana saya?

Tidak ada yang tahu kan? Apakah saya akan berhasil hari ini atau tidak? 

Jadi, mari kita selesaikan satu per satu. #MarhabanYaRamadhan

Sunday, March 11, 2018

Inkonsistensi

“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.” -Albert Einstein

Berapa kali kamu mengalami kegagalan sepanjang hidupmu?
Kapan kamu terakhir kali gagal?
Apa akibat dari kegagalan tersebut?
Bagaimana caramu memperbaikinya?

Mengulangi kesalahan dan mengalami kegagalan adalah pengalaman yang konyol. Karena buat saya itu seperti dosa harian. Terus dilakukan, walau tahu itu salah. Masuk lagi ke dalam lubang yang sama, keluar, lalu masuk lagi.

Contoh sederhana: pasang alarm jam 4, bangun, matikan alarm, terus tidur lagi, bangun jam 5 atau setengah 6, beberes, berangkat kerja, datang mepet atau terlambat, kerja, pulang, istirahat, tidur malam, terus berulang lagi. Satu dua kali bisa betul bangun jam 4 terus tidak tidur lagi, terus jadi tepat waktu, tapi besoknya berulang lagi kesalahan yang sama.

Mengapa selalu melakukan kesalahan yang sama?

Mengapa tidak berbuat sesuatu yang berbeda?

Dan menariknya itu berlaku di hampir semua lini. Seperti renacana mau olahraga, rencana mau nabung, rencana mau sekolah lagi, dan rencana-rencana lainnya. Jalan sebentar tapi terus kembali lagi ke rutin lama. Kalah oleh malas, kalah oleh kesibukan, akhirnya gagal lagi...

“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda.” -Albert Einstein

Contoh yang lain: mencoba rutin menulis. Sulitnya bukan main, ada saja kendalanya. Luar biasa teman-teman yang selalu bisa mengalokasikan waktu untuk bisa menulis. Bahkan nulis status pun buat saya itu sulit. Kudu ada kejadian dulu atau bener-bener gak ada kerjaan, barulah bisa nulis.

Bagaimana cara orang-orang bisa konsisten menjaga rutin mereka?

Bagaimana cara orang-orang bisa rutin olahraga, rutin membaca, rutin menulis, rutin menabung, rutin makan sehat, rutin bangun pagi, rutin ngobrol dengan keluarga, rutin belajar hal-hal baru?

Kok susah untuk bisa konsisten, minimal satu hal saja.

Coba 21 hari, coba dari hal yang kecil.

Rasanya sudah coba, tapi tetep we kalau udah lewat 21 hari, balik lagi ke kebiasaan lama. Kenapa ya?

Satu-satunya yang selalu konsisten itu, kayaknya buka media sosial, dan browsing internet. Hahahaha

Udah ikut grup blogger di Smipa pun kurang memotivasi diri ini untuk bisa jadi lebih produktif. Padahal kan keuntungannya banyak. Minimal bisa sharing pengalaman, dan mengasah tulisan. Kan gak mungkin bisa langsung jadi ahli menulis.

Lebih jauh lagi, bagaimana bisa menularkan konsistensi kepada teman-teman di kelas, kalau saya sendiri pun masih kesulitan?

Pertanyaan menarik. Percuma rasanya, senang melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut.

Saya harap penyakit ini cepat sembuh.

Monday, December 25, 2017

T A N A H

15 Desember 2017
Pagi hari
Di ruangan kelas 9
Sedang mengerjakan rapot
Tiba-tiba ada wa masuk di grup keluarga,

Teh santi happy bday, semoga panjang umur, sehat selalu, diberikan rezeki berlimpah,happy selalu


Waduh, saya lupa hari ini istri ulang tahun... Keasikan bikin rapot... Hahaha... padahal mah memang gak pernah inget. Maaf ya Mbu...

Desember adalah hari lahir dua perempuan hebat, ibuku dan istriku.

Di penghujung tahun 2017, saya masih belum bisa berbuat banyak untuk keduanya. Alasannya klasik, tidak ada uang. Membuatku jadi bertanya-tanya, memang kenapa kalau tidak ada uang?

Coba kita lihat, saat ini semua hal pokok harus diganti uang, dan semua akan menuju ke sana, tinggal menunggu udara yang kita hirup jadi berbayar saja.

Kecuali kita berbuat sesuatu.

Setiap hari kita membeli kebutuhan pokok, seperti makan, minum, listrik, air bersih, gas, transportasi, menjaga kesehatan, pendidikan, dan bersosialisasi. Belum lagi kalau satu hari anggota keluarga ada yang tertimpa musibah seperti sakit atau yang lain. Plus tentunya biaya untuk rekreasi.

Kenapa sepertinya hidup teh makin mahal? Mengapa teknologi makin maju teh malah bikin kesenjangan tambah parah?

Akibat populasi makin padat dan globalisasi?

Sebagai generasi millenial, terlihat kesejahteraan hidup makin sulit didapat. Kalau sejahtera itu diukur dengan harta, maka generasi millenial berada dalam kesulitan. Makin banyak yang tinggal bareng ortu, makin banyak yang hasil usahanya gak bisa beli aset, makin banyak yang jadi pengangguran karena perusahaan bangkrut.

Jadi mending jangan ukur sejahtera dengan harta, walaupun bakal sulit, karena media-media sosial, mempertontonkan gaya hidup yang glamor. Banyak duit itu sama dengan sejahtera.

Tapi tidak bisa dipungkiri, semua itu saling terkait, jika negara ingin ambil bagian maka ada persoalan utama untuk diatasi, yaitu tanah.

Saat ini, sangat tidak masuk akal, kerja di pusat kota, tapi tinggal di kabupaten. Udah mah jauh, macet pula. Hidup/kerja itu habis di jalan. Tata wilayah kota harus diperbaiki. Bisa dibilang, yang punya kebijakan saat ini kurang ngerti peliknya masalah tanah ini. Karena mereka mah punya. Dan buat mereka harga tanah makin mahal ya makin bagus. Sementara buat rakyat mah di pinggir we, jauh-jauh. Hehehe.

Gimana bisa punya waktu berkualitas bersama keluarga, yang ada capek. Sampai rumah langsung menggoler.

Bayangkan jika tata wilayahnya diperbaiki. Tiap wilayah itu ada perumahannya, perkantoran, pusat perdagangan, serta tempat rekreasi. Tentunya kota akan lebih sehat. Moal pabeulit siga ayeuna.

Tapi kumaha carana? Selama mindsetnya prinsip ekonomi mah ya sudahlah...

Betapa sedihnya kelak generasi anak cucu kita, yang bisa punya rumah tengah kota hanya segelintir orang saja. Itu pun sudah dalam bentuk apartemen, bukan lagi rumah hak milik.

Mending ka desa we lah, membangun yang baru jauh dari kota.

Tapi terus teh desana ancur kusabab orang kota nu ka desa hoyong aya mall-mall jeung pabrik-pabrik, plus jalan tol, sareng jalan layang, terus bere we taman. Hahahaha

Jadi lieur...

Catatan: saat ini Jawa sebagai pulau terpadat di Indonesia menghasilkan kerugian luar biasa akibat kemacetan setiap harinya. Solusinya bukanlah penataan ulang wilayahnya, tetapi pembangunan jalan tol dan jalan layang. Perumahan makin mahal dan makin jauh dari pusat kota. Bayangkan setiap hari seorang anak, pulang pergi rumah - sekolah perlu 2-3 jam. Begitu pula para orangtua yang bekerja, perlu waktu yang sama untuk pulang pergi rumah - kantor. Untuk mengatasinya orang-orang beli kendaraan pribadi atau pakai taksi online, yang mana mengakibatkan jalanan malah makin padat.

Saya ingat dulu, waktu SD mau ke sekolah itu tinggal pakai becak atau jalan kaki, tidak sampai 30 menit sudah sampai sekolah.

Tapi itu kan dulu... Dan itu baru persoalan tanah, belum masalah air, energi, pangan, kesehatan, kesenjangan, dst... Waw banyak warisannya... Maafkan generasi bapakmu ini nak.

Semoga tahun 2018-2019, saya dan keluarga bisa mulai beli tanah, bangun rumah, yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Wednesday, November 1, 2017

20 Tahun

20 tahun lalu saya lulus dari SMPN 13. Seperti halnya sewaktu SD ke SMP saya beruntung dapat nem yang cukup tinggi. Begitu juga sewaktu mau masuk SMA. Nem saya cukup untuk masuk SMA 5, Alhamdulillah.

Seingat saya, saya tidak pernah mikirin nanti mau masuk jurusan apa. Sekolah mah sekolah we. Baru milih teh pas kelas tiga SMA lah. Waktu SMP mah boro-boro mikirin jurusan, milih IPA/IPS aja nggak.

Di sisi lain, semua materi pelajaran yang di dapat itu gak ada yang benar-benar saya pahami kegunaannya untuk apa. Mungkin memang benar seperti Kak Robert bilang, yang penting itu strukturnya. Kita jadi belajar efektif, efisien, bisa ngatur prioritas, ngelola waktu, dan bertanggung jawab. Memang pelajaran itu hanya cara/metode. Cara agar kita memahami diri kita sendiri dan lingkungan kita dengan lebih baik.

Saya juga bukan kakak yang baik dalam hal memberikan motivasi. Kalau sedang hiking, terus adik-adik bertanya, "Kak, masih jauh?" Saya pasti jawab apa adanya. "Iya, masih jauh. Jauh banget! Hehehe."

Perjuangannya memang berat. Mun gampang mah gak usah ada sekolah. Gak usah ada pelajaran-pelajaran yang bikin ngantuk, atau yang gak kita sukai. Tapi pada akhirnya, yang sulit itu malah yang bikin kita tambah pengalaman. Lalu yang bikin ngantuk itu yang ternyata kita butuhkan.

Sewaktu kuliah, tiga kali saya mengulang kuliah kalkulus. Sudah ngulang tiga kali pun cuma dapat nilai C. Terus apa saya harus menyerah?

Mengeluh itu bukan solusi. Jika ingin hasil yang berbeda, cara yang dilakukan juga harus berbeda. Ingin sukses? Kalau caranya hanya mengeluh apa bisa sukses?

Seperti kisah hiking tadi. Kalau sudah sampai puncak memang ada apa? Biasanya malah gak ada apa-apa. Paling cuma pemandangan doang. Oleh karena yang menarik itu selalu perjalanannya. Tinggal kita pilih, mau sampai ke puncak dengan terus mengeluh atau menikmati setiap langkahnya?

=========
Jati Gede


Catatan pinggir:

Lewat sains dan matematika saya menemukan Tuhan. Kita bisa menemukan segala bentuk keindahan alam serta segala keteraturan dari mulai tubuh kita hingga alam semesta. Tapi semuanya rumit, seperti tidak berpola. Untungnya manusia diberikan otak yang dapat menemukan pola-pola dalam ketidakteraturan tersebut.

Berpusing-pusing sedikit ternyata ada faedahnya.

Seperti barisan fibonacci: 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, ...

Golden ratio muncul dari pola ini. Ditemukan oleh Leonardo Fibonacci pada tahun 1200an, setiap pasangan berurutan dari barisan tersebut saat dibagi jadi makin dekat dengan nilai golden ratio / phi 1,618...

Contoh: 5/3 = 1,666...
34/21 = 1.619048
Dst.
Semakin besar angkanya, maka nilai baginya makin mendekati phi.

Golden ratio ini ditemukan di banyak tempat. Perbandingan piramid, tubuh manusia, bentuk kerang, sampai bentuk galaksi.

Saya yakin ada kekuatan yang maha dahsyat yang mampu menciptakan keteraturan tersebut.

Saat mempelajari ilmu spektrum cahaya, kita pun menemukan keajaiban yang lain, mungkinkah ada kehidupan di tempat lain di alam semesta ini?

Semoga hasrat untuk bertanya, untuk menemukan berbagai jawaban tidak akan pernah pudar. Tidak kalah oleh malas dan keluhan. Tidak kalah oleh rasa takut dan minder.

Seperti kepingan puzzle. Saat ini mungkin kita belum tahu manfaatnya apa, tapi kelak yakinlah keping itu akan menemukan tempatnya.

Sumber: https://www.livescience.com/37704-phi-golden-ratio.html